Monday, September 19, 2005

Kepada yang...

Wuahh.... ada tulisan menarik niy yg gw copy dari sbuah web seorang matrixer yg bernama w4nn4 (blum kenal siy, cm br tau nama ajah dari komunitas matrix-centro). Mayan buat baca-baca. mudah2an gak keberatan yahh gw masukin disini. :)


Kepada yang....
MASIH SINGLE,

Cinta ibarat kupu-kupu, makin kau kejar,
makin ia menghindar. Tapi bila kau biarkan
ia terbang, ia akan menghampirimu disaat
kau tak menduganya.

Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering
pula menyakiti, tapi cinta itu

hanya istimewa apabila kau berikan pada
seseorang yang layak menerima.

Jadi......tenang-tenang saja, jangan terburu-
buru dan pilihlah yang

terbaik.



Kepada yang....

RAGU-RAGU DENGAN PERNIKAHAN,

Cinta bukannya perkara mencari seseorang
yang "Sempurna", tetapi menemukan
sesorang yang bisa menjadikan dirimu
sempurna.



Kepada yang....

PLAYBOY/PLAYGIRL,

Jangan katakan "I Love u" bila tidak benar-
benar peduli. Jangan bicarakan soal-soal
perasaan bila itu tidak benar-benar ada.
Jangan kau sentuh hidup sesorang bila kau
hanya berniat main-main dengannya.
Jangan menatap kedalam mata bila yang
kau kerjakan hanya berbohong. Hal terkejam
yang bisa dilakukan adalah membuat
seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak
berniat sama sekali untuk menerimanya
saat ia terjatuh.......



Kepada yang....

SUDAH MENIKAH,

Kalau cinta jangan katakan "ini salahmu!"
tapi "Maaafkan aku ya!" Jangan juga
katakan "Kau dimana?" melainkan "Aku
disini, kenapa!" bukan "Kok bisa sih kamu
begitu?" tapi "Aku ngerti....."dan juga
bukan "Seandainya kau......." akan
tetapi "Terimakasih ya........"



Kepada yang....

BERTUNANGAN,

Tolak ukur saling mencocoki bukanlah
berapa lamanya waktu yang kalian habiskan
bersama, melainkan betapa baiknya
kebersamaan anda berdua



Kepada yang....

PATAH HATI,

Sakit..........patah hati........ Bertahan selama
engkau menginginkannya dan akan
mengiris luka sedalam engkau
membiarkannya, tantangannya bukanlah
bagaimana bisa mengatasi rasa itu,
melainkan apa yang bisa diambil sebagai
pelajaran dan hikmahnya.



Kepada yang....

BELUM PERNAH JATUH CINTA,

Bagaimana kalau jatuh cinta? Mau jatuh
jatuhlah tapi jangan sampai terjerumus,
tetaplah konsisten? tapi jangan terlalu
ngotot, berbagilah dan jangan sampai
sekali-
kali tidak fair, berpengertianlah dan cobalah
untuk tidak menuntut, siap-siaplah untuk
terluka dan menderita tapi jangan kau
simpan semua rasa sakitmu jika itu benar-
benar kau alami

Kepada yang....

INGIN MENGUASAI,

Hatimu patah melihat yang kau cintai
berbahagia dengan orang lain, tapi akan
lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau
cintai ternyata tidak berbahagia denganmu



Kepada yang....

TAKUT MENGAKUI,

Cinta menyakitkan bila kau putuskan
hubungan dengan seseorang tapi lebih
sakit
lagi bila seseorang memutuskan hubungan
denganmu, tapi cinta paling menyakitkan
bila
orang yang kita cintai sama sekali tidak
mengetahui perasaanmu terhadapanya.



Kepada yang....

BERTAHAN MENCINTAI SESEORANG YANG
SUDAH PERGI,

Hal paling menyedihkan dalam hidup ialah
bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta
hanya kemudian pada akhirnya menyadari
bahwa dia bukanlah jodohmu dan kau telah
menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk
seseorang yang tidak layak. Kalau sekarang
ia sudah tidak layak 10 tahun dari sekarang
pun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi,
lupakanlah !!!!!!!

Wednesday, September 14, 2005

Jika kau bertanya

Jika kau bertanya pada ku
‘Adakah disetiap hari ku, aku selalu mengingat dirimu?’
Dan jika aku menjawab dengan berkata ‘Tidak’
Itu adalah sebuah kebohongan besar yg nyata
Karena akulah orang yg telah jatuh hati kepadamu
Akulah orang yang senantiasa memujamu
Dan karena kau lah seorang yg telah bersemayam dikalbuku
akulah rumahmu dan engkaulah rumahku
aku akan selalu kembali dari perjalananku
menyandarkan jiwaku yg lelah dengan penatnya urusan dunia
hingga ku berteduh dari teriknya sang mentari disiang hari
maupun hujan yg datang mengguyur dan membasahi raga
serta engkau lah tempat ku bermimpi didalam gelapnya malam
kau sambut diriku dengan senyum penuh kasih sayang
peluhku hilang, penatku sirna bahagiaku pun datang
tatkala jiwa ku tandus dan gersang
kegundahan, kegelisahan dan kesedihan pun melandaku
namun kau bawakan padaku setetes air kehidupan
menghantar ku pada sebuah harapan dipenuhi keyakinan
"Dan itulah Engkau....." begitu ucapku.




aculyglagiberkutatdenganbermacammacampikiran. :)

Tuesday, September 06, 2005

Cinta & Peleburan

Perhentian yang terakhir di jalan mistik (kesadaran terhadap Kenyataan Tunggal) adalah mahabba atau cinta dan makrifat. Keduanya saling melengkapi, terkadang cinta dianggap lebih utama dan adakalanya makrifat dipandang lebih tinggi. Ghazali : cinta tanpa makrifat tidak mungkin-orang hanya dapat mencintai sesuatu yang dikenal. Para ahli mistik Islam (sufi) mencoba menggambarkan berbagai segi makrifat yaitu ; pengetahuan yang tidak dicapai melalui penalaran akal tetapi merupakan pemahaman yang lebih tinggi mengenai rahasia ketuhanan. Ada perumusan yang paling menyentuh hati seperti yang diberikan oleh Junayd : Makrifat...ialah keraguan hati antara menyatakan bahwa Tuhan terlalu agung untuk dimengerti dan menyatakan bahwa Ia terlalu dahsyat untuk dilihat.

Orang dapat mengenal sesuatu hanya sesuai dengan cintanya kepadanya. Doa menurut hadist yang diucapkan Rasulullah :Ya Tuhan, berilah aku cinta-Mu dan cinta mereka yang mencintai-Mu dan cinta yang membuatku mendekati-Mu dan buatlah cinta-Mu lebih kucintai daripada air yang sejuk.

Dizaman awal tasawuf. masalah cinta menjadi titik permulaan yang baik. Aliran ortodoks menerima mahabba hanya sebagai 'kepatuhan' dan bahkan beberapa ahli mistik islam moderat mengatakan bahwa 'mencintai Tuhan berarti mencintai kepatuhan kepada kekasih'. Abu Talib Makki merangkum gagasan tasawuf moderat:Bagi orang yang beriman cinta kepada Tuhan dan utusannya harus mengatasi segalanya, Rasulullah menjadikan cinta kepada Tuhan suatu syarat keimanan. Dan para ahli sufi pun merasa bahwa : 'Tak ada yang lebih disukai Tuhan ketimbang cinta manusia kepada-Nya.

Sari as-Saqati dari Baghdad mengatakan seperti yang dicatat oleh Hujwiri : Adalah kebiasaan Tuhan untuk selalu menampakkan diri kepada hati orang yang mencintai-Nya, agar supaya kebahagiaan yang ditimbulkannya mengautkan mereka untuk menahan segala penderitaan; lalu mereka berkata dalam doa: Bagai kami semua siksaan lebih diinginkan dari pada tertutup dari Engkau. Jika keindahan-Mu terungkap di hati kami, penderitaan tidak kami pikirkan.

Keakraban adalah kedekatan etik yang ditimbulkan kerena kepatuhan akan perintah Tuhan. Bersumber dari Hadist Qudsi: Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekati-Ku dengan amal ibadahnta, sampai Aku mencintainya dan bila Aku mencintainya Aku-lah matanya yang melihat dan Aku-lah telinganya yang mendengar. Dan jika ia mendekat sejengkal, Aku mendekat sedepa, dan jika ia datang sambil berjalan, Aku mendekat sambil berlari.

Ada lagi yang mengatakan kerinduan sejati tanpa akhir karena yang dicintai juga tanpa akhir, makin dekat sang sufi kepada kekasihnya, ia makin meresapi kedalaman sifat-Nya dan inti hakikatnya seperti ngarai yang tidak terjajaki..
Berbagai tahapan cinta adalah uns 'kedekatan'; qurb,'keakraban ; shauq,'kerinduan' dan lain-lain. Hati orang arif adalah mahligai cinta, dan hati pencinta adalah mahligai kerinduan, dan hati orang yang rindu adalah mahligai kedekatan.

Cinta sebagaimana yang dialami oleh orang-orang sufi di zaman awal merupakan kepasrahan yang mempunyai corak yang sangat didasarkan pada pengalaman pribadi. Al-Hallaj bahkan tidak ragu-ragu menempatkan cinta lebih tinggi ketimbang iman : Cinta adalah karunia purba Ilahi; tanpa cinta tak mungkin orang memahami hakikat Quran apau pun iman. Para ahli mistik merasa bahwa cinta yang mereka alami bukanlah hasil usaha mereka sendiri; melainkan diciptakan oleh aktivitas Tuhan. Bukankah Tuhan mengatakan : Ia mencintai mereka, dan mereka mencintai-Nya (Q 5:59).

Satu ayat yang mengatakan cinta Tuhan mendahului cinta manusia ? Hanya bila Tuhan mencintai hamba-Nya, hamba-Nya itu dapat mencintai Tuhan dan dilain pihak, si hamba tak mungkin menolak mencintai Tuhan karena prakarsa datang dari Tuhan. Cinta tidak mungkin dipelajari, ia adalah hasil karunia Ilahi-andaikata dunia mau meraih cinta, ia tak akan mampu, dan andaikata ia mau menolaknya, ia tak akan kuasa, karena cinta itu suatu anugrah, bukan suatu hasil usaha.

Gagasan Tuhan adalah 'perbendaharaan yang tersembunyi' yang ingin dikenal, tumbuh dari perasaan bahwa Tuhan ingin mencinta dan dicintai. Bayezid melihat cinta seperti: Aku berjalan di padang rumput, hujan cinta baru reda, dan tanah masih basah, umpama kaki manusia melangkah di taman bungan mawar, demikianlah kakiku berjalan di dalam cinta. Shibli mengumpamakan :waktu seorang arif adalah umpama hari di musim semi, guruh menggelegar, awan menangis dan halilintar menyambar, angin bertiup dan kuncup mekar, burung berkicau, kegitulah keadaannya; ia menangis dengan matanya, tersenyum dengan bibirnya, membakar dengan hatinya, bermain dengan kepalanya, mengucapkan nama sahabat dengan mondar-mandir di depan pintunya.

Sesungguhnya ada diantara hambaKu yang mencintai Aku dan Aku mencintai mereka, dan mereka merindukan Aku, dan Aku merindukan mereka, dan mereka memandang Aku dan Aku memandang mereka...Tanda-tanda mereka adalah pada siang hari mereka mengusahakan kerindangan dengan penuh rasa harap, bagaikan gembala memelihara dombanya dan mereka merindukan kandangnya di kala senja, dan bila malam tiba, bayangan memudar, tikar terbentang ranjang terpasang dan setiap pencinta berdua dengan kekasihnya, maka mereka berdiri dan bersujud, menyeruKu dengan kata-Ku dan memuji-Ku dengan dengan rahmat-Ku, sambil setengah menangis setengah meratap, setengah bingung dan setengah mengeluh, kadang sambil berdiri, sambil duduk, sambil berlutut, sambil bersujud, dan Aku melihat penderitaan mereka demi Aku, dan Aku mendengar apa yang mereka keluhkan tentang cinta-Ku.

Pada jalan mistik ini ilmu pengetahuan tidak ada gunanya-hanya cahaya kearifan, cahaya kepastian yang dicapa melalui pengetahuan intuitif yang dapat membantu dalam mendekati rahasia cinta. Seorang ahli mistik dari Sind diabad ke-17 mengatakan :'Akal adalah keledai pincang, sedangkan cinta adalah bagaikan buroq yang bersayap yang membawa manusia ke hadirat Tuhan'. Cinta adalah sifat manusia yang paling murni. Tuhan menciptakan Adam karena cinta; Adam membawa dalam dirinya citra ketuhanan dan tak ada makhluk lain yang dapat menyamai ia dalam hal cinta. (kalau malaikat jatuh cinta, ia menjadi manusia sempurna).

Semoga bermanfaat

===
Diambil dari buku : "Dimensi Mistik dlm Islam", Annemaria Schemmel
===

NB:
ini jg diambil dari milist tetangga. lagi males bikin postingan ditambah lagi kompi di rumah lagi ngadat, bikin tambah males ajah. huhuhu... menyebalkan....... :(

-acul-

Monday, August 22, 2005

Namanya juga orang hidup

Hidup kita didunia ini selalu berkutat dari suatu urusan ke urusan yg lainnya. Namanya juga orang hidup, begitu orang selalu bilang. Katanya siy cuma orang mati ajah yg udah gak ada atw terbebas dari segala urusan(maksudnya urusan dunia).
Yang namanya urusan dunia bisa jadi membawa kebahagian bisa jg membawa kesedihan. Tapi perlu kita ingat sodara-sodara, bahwa yang namanya kebahagiaan ada pangkal dan ujungnya. Dan hanya ada satu kebahagiaan yang hakiki yang tiada pernah habisnya, yaitu kebahagiaan para ahli sorga. Begitu jg dengan kesedihan, bahwa kesedihan itu juga ada pangkal dan ujung. Kesedihan yang abadi yang tiada pernah habisnya hanyalah dimiliki oleh para ahli neraka. Naudzubillahi min dzalika

by achul

Lanjutan Cerita: *Sbuah Pertemuan*

Tiga bulan berlalu sudah semenjak peristiwa itu. Bang Jul sedang bersantai-santai di rumah karena jadwal kuliah yg semakin sedikit di tingkat-tingkat akhir perkuliahan. Bang Jul sejenak mencoba menikmati waktu sambil mendengarkan nada-nada berirama lounge dari Cafe Del Mar. Yup, sejenak melupakan kepenatan kehidupan kampus yang sebelumnya padat dengan kegiatan perkuliahan baik tugas-tugas kuliah, praktikum maupun Quiz yang selalu diadakan setiap minggu oleh para dosen yang seneng ngeliat tampang mahasiswanya mendadak pucat dan berkeringat dingin begitu melihat soal-soal quiz.

“Hey kamu, mahasiswa yg duduk di ujung sanah, kenapa muka kamu pucat..?” Sang Dosen menegur mahasiswa yang begitu menerima lembar soal quiz langsung mengeluarkan keringat dingin sedingin-dinginnya seolah-olah kutub utara tiba-tiba terpampang diwajahnya dan berwajah pucat pasi seputih beruang kutub. (Tinggal siapin kain kapan ajah tuhh.., bentar lagi jg kena serangan jantung trus pingsan dan keabisan napas dehh.....).
“ehh, emm...i.yah pak, Sssaya sss...ssaa..sakitt..” si Mahasiswa menjawab dengan gugup sesuai dengan keadaan psikologi jiwanya saat itu yg sedang terguncang oleh soal-soal Sang Dosen.
“kok bisa..? tadi Saya liat kamu cengangas-cengenges gak karuan sebelum masuk kelas ini. Pasti kamu cari alasan biar bisa gak ikut quiz ini yahh...? jangan coba-coba ngadalin sayah yah..?” Sang Dosen menuduh si mahasiswa.
“tadi emang Sssaya sehat pak.., tapi begitu liat soal yang bapak buat ssssaya tiba-tiba jadi eneg mo muntah dan jadi gak enak badan gini. Bapak bikin soal dari buku yg mana siy pak..? kok Sssaya prasaan gak pernah nemu ini soal...?”
“Kamu emangnya baca buku apa...?”
“Sssaya baca buku The Da Vinci Code dan Angel and Demon pak...?”
“Dasar mahasiswa dodol, ini ujian kalkulus tauk..!!! gak ada sangkut pautnya sama itu buku..!sudah kamu pulang sajah sanah..! gak usah ikutan quiz dan kelas inih..” “Jadi..., jadi sssaya boleh pulang niy pak...?” si mahasiswa berkata sambil berlaga gagap dan gugup.
“Iyahhh.. pulang sanahh..!! masa saya suruh kamu tidur disini ampe jam kuliah saya berakhir...!! dasar mahasiswa dodol..” Sang Dosen berucap dengan ekspresi wajah yang sebentar lagi berubah menjadi srigala yang siap menyantap mangsanya karena kelakuan si mahasiswa yang agak-agak oon bin dodol pake pura-pura gak ngerti maksud perintah dari si dosen.
“Terimakasih Pak..., itu yg memang saya harapkan pak.., daripada saya ntar masuk rumah sakit kena stroke cuma gara-gara gak bisa ngerjain soal dari Bapak..” dan segera mahasiswa itu meninggalkan kelas dengan riang gembira dan secara spontan menjadi sehat walafiat kembali tak kurang sesuatu apapun. (dasar mahasiswa gokil... ada gak siy yg kyk gituhh...?)

Ya begitulah sedikit warna kehidupan perkuliahan di kampus, tiap minggu, tugas, kuis, tugas, kuis yang tak henti-hentinya ampe bosen tp gak boleh bosen (sulit kan..?, dah kayak buah simalakama ajah, dimakan sakit perut gak dimakan jg sakit perut). Sekarang Bang Jul tinggal menyelesaikan satu mata kuliah lagi dan tugas akhirnya menyusun skripsi. Tapi saat ini waktunya santai dulu buat Bang Jul di rumah. Sebuah alunan musik dari cafe del mar,

we can be, we can be more than ever people
more than ever people more than ever people...
wake up your lazy people, put on your hands and realize
we can be positive people, and just your attitude and wise
we can be, we can be more than ever people
more than ever people more than ever people

Tiba-tiba ditengah-tengah keasyikan mendengarkan alunan musik Cafe Del Mar, Bang Jul dikagetkan oleh panggilan suara yang cukup akrab ditelinganya. Yup, suara itu berasal dari Ayahandanya.
“Jul..Jul....... lagi ngapain dikamar..? kesini sebentar Ayah mo ngomong..!” Ayah Bang Jul memanggil karena ada sesuatu yg mungkin ingin disampaikan kepada Bang Jul. Dengan segera Bang Jul bangun dari santainya dan menghampiri sang Ayah.
“Ada apa siy Ayah manggil-manggil Jul..? Jul kan lagi asik di kamar..”
“Ehh, kamu tuh kl dipanggil lama banget siy.. lagian ngapain kamu dikamar seharian..? palingan liatin cecak pacaran...gak mutu tauk..!!!”
“Ah Ayah bisa ajah, emang ada apa siy...?”
“Gini.., kan kamu kebetulan lagi dirumah ajah niy.., nah, besok minggu tuh ponakan Ayah yg anaknya Tante Ida di Ciomas Banten mo nikahan. Jadi Ayah minta kamu temenin Ayah kesana yahh, skalian kita ziarah ke makam kakek kamu disana..”
“Owhh..... kirain ada apa gituhh.., ternyata itu tohh.....” Jul menjawab tanpa ekspresi.
“Ehh.. nanti Tante Dyah skluarga jg dateng lohhh...” Ayah Bang Jul melanjutkan. “Trus...” Jul masih menjawab tanpa ekspresi.
“lohhh...... kamu ini gimana siy Jul, Tante Dyah kan Ibunda nya si Sasya, kamu dah tau kan..?”
“Hahh...!”

Akhirnya Bang Jul mengeluarkan ekspresi di raut wajahnya stelah sedari tadi hanya menjawab tanpa ekspresi. Tapi ekspresi Bang Jul kl ini agak aneh, mungkin karena ucapan Ayah Bang Jul yg menyebut nama Sasya mengembalikan memory Bang Jul kembali kepada peristiwa yg membuat Bang Jul bete dan kesal. Tapi disisi lain, Bang Jul ingin sekali mengetahui dan melihat secara langsung seperti apakah wajah dari makhluk yg bernama Sasya itu. apakah dia mirip dengan Paris Hilton atau minimal mirip dengan Dian Sastro atau jangan-jangan malah mirip Omaswati atau Mpok Nori lagihh. Whuaaaa..... tolonggg.....!! Bang Jul membatin dalam hati.
“Kamu kenapa Jul..? kok seperti ada sesuatu di wajah kamu begitu Ayah menyebut nama Sasya. Kamu dah pernah ketemu yahh...? dia kan satu universitas sm kamu..” Ayah Bang Jul melontarkan pertanyaan yg membuat Bang Jul tersadar dari lamunannya.
“Ahh.. gak, gak kok yahh... ya udah, nanti kita berangkat kesana naek apa...?” Bang Jul terlihat mencoba mengalihkan topik pembicaraan dan berkeinginan tidak membahas atau menceritakan apa yg pernah dialaminya dengan Sasya.
“Nanti kita bareng Tante Nany. Tante Nany akan jemput kita pagi-pagi. Jadi kamu nanti abis sholat subuh jangan pake tidur lagi yahh..! langsung mandi trus sarapan. Ingat tuhh..!” Ayah Bang Jul mengingatkan Bang Jul akan kebiasaannya yg suka tidur lagih sehabis sholat subuh. Mungkin karena udara subuh yg masih dingin yang selalu menggoda mata Bang Jul untuk dipejamkan kembali membuat Bang Jul tak tahan untuk merebahkan kembali tubuhnya dipembaringan yg jg turut melambai-lambai dimata Bang Jul. Begitu menggoda. Dasar pembaringan murahan. Bang Jul tak tahan godaannya.
“Okeh..okeh..., besok pagi Jul gak akan tidur lagi sehabis sholat subuh dehh.., Jul janji..” sambil mengacung dua jari berbentuk hurup ‘V’ yang katanya artinya seseorang terikat dengan janji yg telah diucapkannya.

Keesokan paginya Bang Jul bangun sesuai dengan janjinya, tidak tidur lagi setelah sholat subuh, melainkan mandi trus sarapan dan bersiap-siap berangkat menuju kampung halamannya. Tante Nany skluarga (suami dan seorang anaknya) pun datang pagi-pagi sekali seperti yg Ayah Bang Jul ucapkan kemarin. Tanpa terlalu lama berbasa-basi, mreka smua masuk ke dalam mobil kijang yg memang memiliki daya tampung penumpang cukup lumayan luas. Perjalanan menuju kampung halaman Bang Jul tempat dilangsungkan nya akad dan resepsi pernikahan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dan kurang lebih selama 2 jam dijalan Bang Jul akan ditemani bersama seorang makhluk kecil yg lagi lucu-lucunya dan nakal-nakalnya bermain.
“Omm Jul, kok gak ngajak pacarnya jg siy...? gak punya yahh..? niy jadi pacar boneka barbie ku ajah mo gak..? dia jg masih sendiri kok, kemarin boneka pasangannya udah aku injak-injak dan banting-banting. Abis aku dah bosen sm dia..” Sepertinya ponakan Bang Jul yg bernama Intan kl sudah seperti ini berarti sedang kambuh kejahilannya. Dia akan selalu mengucapkan sesuatu yg sangat unpredictable, membuat Bang Jul mati gaya.
“Eh iyah yahh... knp Om Jul gak ngajak pacar yahh.. knp yah Tante..?” Bang Jul berusaha mencari bantuan.
“Lohh.... kok kamu malah nanya Tante siy Jul.. emang kamu dah punya..?”
halahhh... Tante Nany bukan membantu Bang Jul malah dia semakin membuat Bang Jul lebih mati gaya lagi.
“Eh, iyah siy Intan.. Om emang blum punya pacar. Tp Om kan gak mungkin donk jadi pacar boneka barbie kamu. Pertama, secara dia itu boneka yg gak bisa Om pacarin, kedua, nanti kl Om jadi pacar boneka kamu terus nanti kamu nya bosen, ntar Om bernasib sama lagi sperti boneka-boneka sebelumnya yg kamu campakkan kalau km dah bosen setelah sebelumnya kamu siksa dengan cara dibanting, diinjak trus dilempar ke kali. Om gak mo ahhh....” Bang Jul coba memberikan argumentasi.
“Gak lahh, gak begitu Om.. kl Om mo jadi pacar boneka barbie Intan, nanti Om, Intan kasih aer keras dulu. Kan jadinya sm tuhhh, boneka gak bernyawa Om jg gak bernyawa.”
Hahh.....! Gubraksss...... niy anak salah makan kali yah tadi pagi. Diajarin apa siy sm orangtuanya, Bang Jul coba menganalisa. Sakit..sakit... niy anak pasti lagi sakit panas kali.... masa dia bisa ngomong kyk gitu siy..? kenapa niy anak harus ikut siy..parahhh.... jerit Bang Jul dalam hati.
“Aduhh Intan, tega banget siy kamu... masa Om mo di aer kerasan siy..? emang Om binatang apa?”
“Iyah niy kamu Intan, km gak boleh ngomong gituh sm Om Jul, mama kan gak ngajarin kamu ngomong seperti itu” Tante Nany menasehati anaknya yg sepertinya kali ini dah klewatan ngerjain Bang Jul.
“Iyah mah.. intan cm bercanda kok. Gpp kan Omm..?” intan berkata tanpa rasa bersalah dan sambil tersenyum manis yg membuat hati Bang Jul pun luluh seketika dan melupakan kejahilan intan tadi.
“Tapi kucing dirumah jg gak ada pasangan tuh Omm.. Om mo gak..? atau, kan Om ada jenggotnya tuhh, gimana kl sm kambing ajahh...?”
Arrgghhhhh.....! Bang Jul bener-bener kewalahan menghadapi keponakannya yg super jahil dan ingin segera rasanya Bang Jul turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan naik bis sajah. Tapi berhubung ini masih di jalan tol, mana mungkin ada bis yg mo berhenti. Bener-bener pilihan syulid dan hidup pun syulid
“Lohhh.. Om Jul ngapain daritadi ngeliatan ke jendela nengok kanan kiri..? nyari bis yahh..? pah..pah.. berhenti dulu pah, Om Jul mo turun kyknya tuh. Om Jul mo naek bis yahh..? nanti hati-hati di jalan yah Om Jul..” Intan seolah-olah membaca mimik muka Bang Jul. Huhuhuhu.... Bang Jul seperti menangis dalam hati. Dasar keponakan usil. Kalo gak ada mama papa nya udah Bang Jul pites niy ubun-ubunnya.
“ehh, Intan... gak boleh begitu. Om Jul bukannya mo turun, Om Jul cm lihat-lihat pemandangan ajah kok. udah cukup isengnya sm Om Jul, jangan usil lagih” mamanya kembali menasehati anaknya yg super usil.
“iyah Intan, papa gak mo kamu usil lagih. Duduk yg baik sana. Jangan usil lagih” kali ini papa nya intan ikut menasehati.
“huahahaha.... dasar anak-anak. Udah Jul kamu gak usah ambil hati” Ayah Bang Jul pun ikutan berkomentar melihat kelakuan intan dan tampang Bang Jul.

Akhirnya penderitaan Bang Jul dalam mobil bersama ponakannya Intan akan segera berakhir stelah mobil keluar dari pintu tol. Dan mobil melesat melaju menuju desa ciomas. Intan pun terlihat lebih diam, mungkin karena sudah merasa kecapean karena selama dlm perjalanan menjahili Bang Jul.

Selang 20 menit kemudian tibalah Bang Jul di kampung halamannya, sebuah kampung yg memang penduduknya satu sama lain adalah masih bersaudara. Bang Jul beserta rombongan tiba lebih awal dimana sang pengantin pria yg notabene adalah orang Jakarta blum tiba ditempat. Stelah bertemu dengan Tante Ida dan suaminya sebagai pemilik hajat, Bang Jul mencari tempat duduk yg nyaman dihalaman rumah. Sambil sesekali memperhatikan orang-orang yg mulai berdatangan untuk menyaksikan prosesi akad nikah. Bang Jul blum melihat wajah Tante Dyah Ibunda si Sasya yg memang wajahnya masih cukup di ingat oleh Bang Jul. Ayah Bang Jul pun sudah berbaur dengan sanak sodara dan kerabatnya yg sudah hadir terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian terdengar suara irama rebana yg ditabuh diiringi shalawat Nabi yg menandakan bahwa pengantin pria sudah tiba. Prosesi akad nikah pun segera berlangsung. Nuansa khidmad dan sakral begitu sangat kental terasa saat prosesi dimulai. Sang penghulu dan sang ustadz yg diundang memberikan wejangan yang begitu mendamaikan serta menyejukkan kepada kedua pengantin.

Beberapa sosok wajah yang berusia sepantaran Bang Jul berlalu lalang mencoba mengambil gambar moment yg paling bahagia ini. beberapa diantaranya memang Bang Jul kenal. Tapi beberapa diantaranya seolah-olah pernah Bang Jul lihat tapi entah di mana ataw di acara apa. Bang Jul mencoba berspekulasi setiap ada cewek cakep trus bertampang ataw berpenampilan seperti orang Jakarta menganggap barangkali itu Sasya. Trus kalo ada cewek yg lebih cakep lagi, brarti gugur pernyataan Bang Jul kepada cewek sebelumnya yg di anggap cakep dan begitu seterusnya. Kan tadi emang Bang Jul nganggepnya si Sasya mirip sm Paris Hilton ataw Dian Sastro bukan Omas ataw Mpok Nori. Gak banget getto lohh....

Prosesi akad telah selesai dan giliran waktunya memberikan selamat kepada kedua pengantin. Berhubung tamu yg datang begitu banyak, ketimbang ngantri memberi selamat mending ngantri ngambil makanan, demikian pikir Bang Jul. Pada saat makan, terlihat beberapa cewek berjilbab melirik ke arah Bang Jul. Mungkin dalam hati tuh cewek. ‘Hai cowok, kok sendirian ajah siy... gak pengen apah kyk pengantin didalam...?’ fiuhh... Bang Jul mencoba berkonsentrasi sm makanannya. Meskipun dalam hatinya berkata, ‘tunggu yahh, gw habisin makan gw dulu, laper banget niy soalnya, ntar ajah kenalannya’. loh kok pada bicara pake bahasa isyarat siy. Tapi itu cm sesaat karena tiba-tiba ada cowok yg nyamperin itu cewek sambil bawain makanan. Halahhh.... tuh cewek dah punya cowok kyknya. Batin Bang Jul sambil trus melahap makanannya.

Setelah selesai makan, Bang Jul keluar dari rumah ke jalan sekedar mencari udara segar. Terlihat seorang sodara sepupu Bang Jul yg merupakan anak dari kakak kandung Ayahnya Bang Jul duduk di bawah pohon rindang sambil menghisap rokok. Bang Jul pun menghampiri dan duduk disebelahnya.
“Ehh, Kak Seha, sendirian ajah niy, kumaha damang..?” Bang Jul menyapa sepupunya dengan panggilan kak karena menghormati silsilah keturunan.
“Ehh, Dede Jul, alhamdulillah, sae.. iyah niy sendirian ajah, didalam rame banget jadi mending diluar ajah, Dede Jul kumaha kabarna..?” sepupu Bang Jul balas menyapa dengan panggilan dede yg karena secara umur memang sebenarnya lebih tua Bang Jul dari sepupunya. Tapi berhubung kl panggil nama ajah gak sopan karena yg dipanggil lebih tua, maka kata dede ditambahkan diawal nama.
“Alhamdulillah, sehat. Iyah. Didalam rame banget, mangkanya saya jg keluar buat ngadem. Eh, Kak Seha kenal yg namanya Sasya gak anaknya Tante Dyah...?” Bang Jul coba bertanya kepada sepupunya ini tentang Sasya yg barangkali tahu sosok orangnya yg mana. Karena secara mobil yg udah datang banyak yg bernomor polisi Jakarta, jadi gak mungkin si Sasya sekluarga atw minimal Ibundanya yaitu Tante Dyah blum datang. “Prasaan pernah denger namanya dan pernah ketemu, tapi saya agak lupa yg mana orangnya karena itu mungkin dulu bangett..” Rupanya spupunya Bang Jul yg bernama Seha ini jg tidak terlalu ingat wajah dari Sasya.

Sebetulnya di hadapan Bang Jul dan spupunya Seha berdiri seklompok anak muda yg kl dilihat dari penampilannya pasti orang Jakarta. Terlihat bahwa mereka sedang asik bicara sambil tertawa dan bercanda. Diantaranya terdapat cewek-cewek berjilbab yg salah satunya Bang Jul lihat pas saat makan tadi. Lagi-lagi Bang Jul berpikir dan berujar dalam hati, mungkin salah satunya ada yg bernama Sasya. Tiba-tiba Ayah Bang Jul keluar dari rumah pengantin dan ikut berbaur dengan kerabatnya yg sudah terlebih dahulu berada diluar rumah. Ketika melihat sekumpulan anak muda itu, tiba-tiba Ayah Bang Jul menghampirinya. Bang Jul yg melihat itu tidak tahu dan tidak mengerti apa yg akan dilakukan oleh Ayahnya. Dalam hati Bang Jul hanya berkata, mungkin ada keponakan Ayah Bang Jul yg dikenalnya. Jadi Ayah Bang Jul menghampirinya. Kemudian terdengar suara dari Ayah Bang Jul.
“Halo smua, yang mana niy yg namanya Sasya..?” Eh busyet dehh ternyata Ayahnya Bang Jul mencari Sasya. Wadohh, Bang Jul langsung panik gak menyangka akan seperti ini jadinya. Salah seorang dari kumpulan itu menunjuk ke salah seorang cewek berjilbab dan berkata,
“Ini yang namanya Sasya pak..”
“Owhhh..... ini Uwa cm mo kenalin anak Uwa yg masih sodara jg sm kamu dan kuliah di universitas yg sama dengan Sasya.”

Terlihat wajah Sasya yg jg ikutan panik dengan tindakan Ayah Bang Jul yg begitu diluar dugaan. Bang Jul sendiri bingung harus ngapain, kl mo kabur ntar malah di curigain lagih. Mo pura-pura kebelakang sakit perut gak mungkin karena kl mo numpang ke belakang tetep harus melewati si Sasya. Lagian agak susah jg bikin wajah pura-pura jadi pucat dalam waktu sekejap Akhirnya Bang Jul pasrah dengan apa yg bakal terjadi. Ayah Bang Jul pun tiba-tiba mengalihkan pandangan matanya ke arah Bang Jul.
“Jul sini...” Bang Jul pun mau tak mau datang dan menghampiri Ayahnya.
“Nah ini, yang namanya Sasya anaknya Tante Dyah. Sasya ini jul anak uwa... kan jadi enak kl sesama sodara dah saling kenal..ya udah pada ngobrol yah” Ayah Bang Jul saling memperkenalkan jul dengan Sasya dan kemudian meninggalkan Bang Jul untuk berbaur lagi dengan kerabat dan sodara-sodaranya yang lain. Maklum kl bukan karena peristiwa ini gak mungkin Ayah Bang Jul bisa bertemu dan menyapa sodara-sodaranya dan kerabat-kerabatnya dikampung.

“Alow, gw Jul...” jul mengulurkan tangannya mengajak Sasya bersalaman. Sesaat tp penuh arti dimana Bang Jul akhirnya bertemu dengan sosok sepupunya yg terdengar agak sombong dalam nada bicaranya di SMS.
“Alow jg, gw Sasya...” Sasya jg mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan jul. Menyunggingkan senyuman manis yg ia punya.
“Owhh.. loe temennya Mba Mela itu yahh..angkatan berapa..?” rupanya Sasya masih ingat dengan SMS an nya dengan Bang Jul dan mungkin Mela jg sudah menceritakan kepada Sasya perihal Bang Jul.
“Iyahh, Mela dah cerita ke loe jg yahh..? gw angkatan 34. loe angkatan berapa..?” Bang Jul balik bertanya kepada Sasya.
“Iyah, Mba Mela udah cerita ke gw. gw angkatan 35”

Sesaat setelah Sasya berkata itu ada kevakuman percakapan yg terbentuk karena memang sebelah kuping Sasya dipakai untuk ngobrol sm Bang Jul dan sbelahnya lagi dipakai untuk teman-temannya Sasya yg sedari tadi asik ngobrol sambil bercanda. Akhirnya Bang Jul memutuskan berpamitan sm Sasya untuk kembali duduk bersama spupunya kak seha.
“Gw kesana dulu yahh...”
“Owhh.. okeh..”

Berakhirlah percakapan singkat itu dengan rasa puas dalam hati Bang Jul. Akhirnya Bang Jul bertemu dengan spupunya Sasya. Meskipun wajahnya tak seperti yg dibayangkan oleh Bang Jul yg berharap mirip dengan Paris Hilton atw minimal mirip Dian Sastro tapi setidaknya wajah sepupunya jg tidak mirip dengan Omaswati ataupun Mpok Nori. Dan satu hal lagi, sebenarnya Sasya adalah orang yg ramah dan tak sesombong seperti nada bicaranya lwt SMS. Apa benar sperti itu...? tunggu ajah deh kelanjutannya :)


by achul

Friday, August 19, 2005

Dulu Hiking Sekarang Touring

Yup, gimana gak judulnya seperti itu karena baru-baru ini gw habis melakukan perjalanan terjauh gw mengendarai motor sampai dengan Bandung yg memerlukan waktu tempuh kurang lebih 4-5 jam dari Jakarta bersama seorang rekan yg biasa dipanggil Kucir. Dan di Bandung jemput temen lagi yg biasa dipanggil Anjrit. Kalo dulu emang naek gunung kemana ajah gw jabanin, sekarang mah touring naek motor. Kalo dipikir-pikir, yah sama lahh kyk perjalanan naek gunung. Touring memerlukan kesiapan fisik dan mental jg. Badan harus fit dalam menghadapi terpaan angin, debu jalan, terik matahari maupun hujan. Kesabaran harus besar ketika menghadapi kemacetan-kemacetan di jalan, kendaraan yang suka saling serobot dan salip-salipan berebut jalan. Ya begitulah emang kalo orang berkendaraan. Dan ini adalah perjalanan terjauh gw dengan berkendara motor, yang sebelumnya tuh gw paling jauh cuma sampe Sukabumi doank ke daerah Cisaat tempatnya Kang Irlan. Mendengar kata Sukabumi Tiba-tiba temen gw langsung motong,

Temen: “Hahh.. lo dah pernah ke Sukabumi..?”
Gw: “Yup...”
Temen: “Lewat ‘danau’ itu donkss..?”
Gw: “Lah iyahh, emang lewat mana lagi..”
Temen: “Brarti...?”
Gw: “Bener..”
Temen: “Jadi..?”
Gw: “Ya begitulahh....”
Temen: “Loe mampir kerumah nya donk...?”
Gw: “Rumah sapa...?”
Temen: “Eh, Selamat yahh....”
Gw: “Selamat apaannn.....???”
Temen: “Huahahaha...” *Temen gw langsung kabur cekikikan gak karuan*
Gw: “Fiuhh..Sakit tuh orang...!!” *@#%#$#$%$*

Oia, buat Kucir dan Anjrit, report perjalanan ke Bandung nya gw posting terpisah ajah yahh. Mungkin minggu depan kali baru gw posting. Habis masih dalam penulisan siy. terutama pengalaman kedua kalinya kedua di telp Bapaknya temen yg bikin gw deg-deg an plus pas pulang dari Soreang yg nyasar gak karuan tengah malam (sekitar jam 24.00-25.00) disebuah komplek perumahan dan gak tau jalan keluarnya kl seandainya kita gak nemuin tukang ojek yg kebetulan abis nganterin orang di komplek itu dan udah mo pulang jg. ancur banget dehhh :D

Tuesday, August 16, 2005

Sebuah Kehilangan

Setiap kita merasa kehilangan seseorang, pastilah kesedihan yg datang menghampiri kita. yeahh.. semua bilang itu manusiawi. Karena secara tidak langsung kita memang memiliki keterikatan satu dengan yg lainnya. Yup, kita sama-sama keturunan Nabi Adam AS. Lalu bagaimana kl ternyata kita kehilangan seseorang yg memang benar-benar memiliki keterikatan kuat dengan nya, misalnya ikatan keluarga..?. Bersiaplah untuk menyediakan hati yg luas, sabar dan ikhlas ketika kita kehilangannya. Apalagi ketika semasa hidupnya hingga mendekati ajalnya sangat amat meninggalkan kesan.

Beberapa hari yg lalu gw kehilangan seseorang keponakan yang meninggal dengan perantara sakit. Yang kemudian dibawa ke rumah sakit dan dirawat hanya sampai 3 hari. Kmudian dengan tenang dan damai menghadap sang Khalik setelah sebelumnya dia berpamitan dengan Ibunya.
” Bu…, nanti Jam 9 Nurul mo pulang…”,Sang anak berkata kepada Ibunya.
Sang Ibu yg blum mengerti maksud si anak hanya menjawab,
“Iyahh.. mangkanya kamu lekas sembuh biar bisa cepat pulang dari sini..”
si anak yg tersadar bahwa Ibunya tidak mengerti maksud dari ucapannya kemudian mencoba menyampaikan kembali maksud perkataannya tadi.
“Bu.., Nurul bukan mo pulang ke rumah.., tapi Nurul mo pulang menghadap Allah SWT”
sang Ibu yang mendengar perkataan si anak tentu saja merasa gundah dengan ucapan anaknya, kemudian mencoba membesarkan hati si anak.
“Ehh.., kamu gak boleh ngomong begituuu… udah kamu istirahat ajah biar lekas sembuh yahhh….”

Terkadang ketika kita sedang mendapatkan sakit, kita tiba-tiba dengan sangat amat mudah merasa dekat dengan sebuah kata yg bernama kematian. Sehingga kita merasa sedih, merasa penuh dosa, merasa sudah hampir tiba ajal kita dan kemudian mengeluarkan kata-kata yg terdengar tak lazim didengar bagi orang-orang yg merasa sehat. Tetapi bagaimana seandainya ucapan itu ternyata memang bukan hanya ucapan orang yg sedang merasa sakit tapi memang orang yg merasa waktu hidupnya di dunia ini sudah habis..??? inilah kejadian yg terjadi dengan keponakan gw itu. Setelah berkata seperti itu kepada Ibunya, si anak yg jg merupakan seorang kakak dari adiknya sempat memberikan sebuah pesan kepada adiknya yg bernama Lia.
“Lia, km kan masuk IPA, nanti kl sudah lulus SMA, km kuliah di Kedokteran ajah yahh “
si adik yg memang tidak tahu harus berkata apa-apa hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan si kakak, yg mungkin itu jg bisa menjadi sebuah wasiat baginya.

Dan memang ternyata apa yg telah di ucapkan si anak kepada Ibunya bukanlah sebuah ucapan orang yg sedang sakit. Tapi orang yg telah melihat malaikat penjemputnya sudah menghampirinya, memberikan salam dan menyampaikan pesan dari sang khalik. Bahwa sang khalik sudah menanti dan menunggunya. Sekitar jam 9 an, sang anak pun menghembuskan napas terakhirnya. Ledakan tangis pun tak tertahankan lagi memecahkan sebuah keheningan sebelumnya. Begitulah takdir Tuhan. Si anak mampu menyampaikan kapan waktu ia akan kembali kepada sang Khalik.

Seorang tante yg mengetahui cerita si anak dirumah sakit pun akhirnya mencoba sharing sebuah cerita. Ketika si anak dulu sewaktu kecil di ajak pergi ke Bogor, dia melihat sebuah gedung yg besar. Kemudian si anak bertanya kepada tante nya, gedung apakah gerangan. Sang Tante pun memberitahu keponakannya bahwa itu adalah gedung IPB dimana banyak orang-orang yg pintar kuliah disana. Kemudian si Tante melanjutkan, kelak jika kamu ingin kuliah disana, kamu harus belajar yg rajin dan giat. Si anak pun menjawab bahwa ia kelak dan berkeinginan untuk kuliah di IPB.

Sebelum akhir hayat nya, si anak memang tercatat sebagai mahasiswa D3 IPB tingkat I di Jurusan Peternakan IPB. Ucapan sang anak diwaktu kecil telah menjadi sebuah kenyataan. Dan sekali lagi, ucapan seorang anak yg sedang sakit pun ternyata menjadi sebuah kenyataan. Subhanallah, Maha Besar Engkau ya Allah berserta dengan kemuliaan dan ke Agungan yang ada pada Mu. Smoga Engkau memberikannya tempat yg mulia di sisi Mu sesuai dengan amal ibadahnya. Dan keluarga yg ditinggalkan diberikan kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Aminn....

by achul

JALAN LURUS - Mengemudi Hati di Era Distraksi

Sinopsis Di tengah gemerlap Jakarta yang didikte oleh algoritma media sosial, tren flexing, dan tuntutan sukses instan, Farhan terjebak dala...