Tuesday, June 09, 2026

Badai Efisiensi Karyawan

Alkisah di sebuah perusahaan media yang sedang mengalami guncangan keuangan melakukan review dan evaluasi internal. Dalam proses evaluasi tersebut sudah banyak karyawan yang akhirnya menjadi korban efisiensi dari semua direktorat atau divisi. Tidak terkecuali tulang punggung perusahaan tersebut yaitu  direktorat sales dan marketing yang menjadi korban efisiensi dimana sebenarnya selain banyaknya karyawan yang sudah terkena dampak efisiensi, juga banyak tim sales yang akhirnya mengundurkan diri untuk mencari tempat kerja yang baru.

Entah bagaimana ceritanya ketika banyak tim sales yang mengundurkan diri dibanding tim marketing hingga akhirnya secara rasio jumlah karyawan sales menjadi lebih sedikit dibandingkan tim marketing. Dan kondisi ini pun akhirnya menjadi highlight dari para pimpinan tertinggi khususnya pimpinan tertinggi dibagian keuangan. Dan kondisi ini pun sampai ke telinga pemilik perusahaan yang akhirnya memberikan perintah untuk melakukan evaluasi di tim marketing atau dengan kata lain efisiensi(lagi). 

Namun ada selentingan yang beredar yang menganalogikan tim sales dan marketing ini seperti sebuah restoran dimana tim marketing adalah koki atau chef restoran yang membuat makanan untuk di jual dan tim sales adalah yang menjual  makanan tersebut. Sehingga terjadi bias evaluasi dimana marketing yang di analogikan koki restoran dianggap lebih banyak daripada sales yang menjual makanan yang dihasilkan. Atau dengan bahasa lainnya harusnya tim yang menjual makanan lebih banyak daripada koki yang membuat makanan. Analogi ini sebenarnya kurang tepat jika di gunakan untuk mereview tim sales marketing karena fungsi tim marketing bukan hanya sekedar Chef atau koki restoran seperti yang di analogikan tapi ada banyak fungsi marketing diluar menjadi seorang chef, dimana pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan hanya oleh seorang chef atau koki. 

Ada baiknya jika ingin membuat evaluasi tim marketing harus benar-benar di pahami kondisi dilapangannya dan tidak semudah menganalogikan proses di marketing sesederhana sebuah restoran dengan jumlah koki yang di milikinya. Ada apa saja di marketing..? apakah benar-benar hanya berfungsi sebagai seorang koki saja..? atau apakah di dapur sebuah restoran hanya ada seorang koki saja..? apakah tidak ada asisten koki..? tidak ada yang membantu bersih-bersih..? tidak ada yang membantu belanja..? tidak ada yang membantu mencuci peralatan..? dan lain sebagainya.

Jika ingin membuat rasio sales vs marketing 1:1, coba lah ditelusuri dahulu di lapangannya, ketika sales datang ke klien dan klien memberikan brief ke sales kemudian datang ke marketing, kira-kira brief apa saja yang di sampaikan oleh klien untuk di follow up sales ke tim marketing..? jika di analogikan dengan koki, kira-kira koki yang seperti apa yang bisa menjawab brief ini. Karena tim marketing yang telah di bentuk dari jaman dahulu tentu untuk menjawab kebutuhan klien dan bukan serta merta dibentuk tanpa tujuan. Berbagai bentuk permintaan klien seperti regular, sponsorship, off air, digital, blocking, built in, kuis, data analis, bisnis/brand pitch, tvday presentasi, dll. Apakah yang di maksud rasio 1:1 adalah 1 orang sales vs 1 orang marketing yang harus bisa mengerjakan semua pekerjaan tersebut..? jika ada 2 orang sales dengan brief yang sama, apakah semua dikerjakan oleh 1 orang yg sama? atau jika ada lebih dari 2 orang sales datang ke marketing apakah semuanya di kerjakan oleh orang yang sama..? bagaimana jika brief yang berbeda dan dari banyak sales yang datang..? 

Disinilah pentingnya memahami konteks dan kondisi lapangan bagi para pimpinan tertinggi di perusahaan media ini. Apakah dengan melakukan efisiensi karyawan di marketing akan membuat kondisi keuangan menjadi lebih baik..? apakah memberikan dampak yang significant atau justru sebaliknya tidak memberikan dampak significant sama sekali. 

Jika efisiensi SDM pada akhirnya tidak memberikan dampak significant artinya pimpinan tertinggi bagian keuangan harus melihat post atau direktorat mana yang memiliki cost yang paling tinggi..? jangan karena post yang memiliki cost tinggi tersebut akan menyinggung pimpinan tertinggi direktorat lain akhirnya pimpinan keuangan menjadi sungkan dan enggan untuk mengangkat isu tersebut. Karena hanya dengan efisiensi di post yang memiliki cost tertinggi itulah sebenarnya kondisi keuangan perusahaan akan terselamatkan atau setidaknya membawa dampak significant terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Ujungnya semuanya bisa saja bukan hanya terkait untuk kepentingan perusahaan tapi mungkin juga terkait dengan kepentingan pribadi para pimpinan tersebut. Meskipun semua bisa saja hanya dugaan yang belum bisa dibuktikan tapi para karyawan akan melihat adanya sebuah politik yang sedang berjalan ditengah badai yang melanda kondisi perusahaan tersebut.

Akan kemana perusahaan ini dibawa, semua tergantung dari kebijakan-kebijakan yang diambil para petinggi perusahaan tersebut. Jika keputusan tepat yang dihasilkan maka selamat lah perusahaan ini tapi jika keputusan yang di hasilkan kurang tepat yang membuat karyawan merasa di dzolimi dan bahkan mungkin juga berdampak ke pihak klien yang merasa di khianati atau mungkin di dzholimi maka bisa saja perusahaan ini pada akhirnya akan tenggelam dan karam dilautan kejayaan yang dulu di bangga-banggakan. Karena Tuhan pasti akan mendengar dan mengabulkan doa-doa dari orang-orang yg di dzholimi. Wallahu A'lam bissawab... 



Friday, May 29, 2026

Pekerjaan impian

Setiap orang pasti punya mimpi tentang pekerjaannya seperti dahulu di masa kecil dahulu kita sudah ditanyakan ingin menjadi apa kelak jika sudah tumbuh besar. Jawaban-jawaban klasik dan idealis pasti akan terucap pada masa-masa itu, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, astrounot, pengusaha, direktur, dll yang semuanya memang adalah angan-angan atau cita-cita atau mimpi-mimpi dari seorang anak yang belum sepenuhnya mengerti tentang pekerjaan yang mereka ucapkan dan impikan.

Seiring berjalan waktu seseorang akan beranjak tumbuh dan berkembang baik secara usia dan juga pengetahuan dari pendidikan yang sudah di jalani atau juga pengalaman-pengalaman hidup yang sudah dilaluinya. Bagaimana dengan mimpi-mimpinya dahulu di masa kecil? pekerjaaan apa yang sekarang mereka jalani? ada yang memang konsisten mengejar mimpinya tapi ada banyak juga yang akhirnya berubah haluan mengikuti minat dan bakat yang lebih menonjol ketika usia bertambah dan bertumbuh. 

Begitulah kehidupan, pada dasarnya manusia harus memiliki sikap yang lebih fleksibel mengikuti dinamika pertumbuhan jiwa dan bakat yang dimilikinya sampai akhirnya mereka menemukan pekerjaan yang sesuai dan sejalan dengan apa yang menjadi minat dan bakatnya.

Pendidikan seseorang pun belum tentu akan membawa dirinya ke arah pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Banyak sekali orang-orang yang memiliki pekerjaan ternyata secara latar belakang pendidikannya tidak sesuai. Ada yang latar belakang pendidikannya pertanian dan bekerja di perbankan, ada yang latar belakangnya ekonomi ternyata lebih senang bertani atau berternak, dlsb. 

Begitu juga dengan seseorang yang sudah memiliki pekerjaan dengan mapan, seiring berjalan waktu tiba-tiba bisa membanting haluan berhenti dari pekerjaannya yang mapan tersebut dengan meninggalkan semua fasilitas-fasilitas perusahaan yang sudah didapat dan dinikmatinya dan rela pindah haluan pekerjaan yang disukainya dan memulai dari bawah lagi. 

Dan ternyata pekerjaan itulah yang akhirnya membawa dirinya menemukan kesejatian bekerja dari pekerjaannya yang terdahulu. Rejeki yang didapat benar-benar bergantung dari kesungguhan dirinya bekerja bukan dari orang lain. Dan dirinya lebih bisa mengalokasikan banyak waktu untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang pencipta  dan yang paling penting adalah bisa banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarga tercinta, istri dan anak-anak di rumah atau pun menghabiskan waktu diluar rumah bersama. 

Alangkah indahnya jika kita bisa memiliki atau mendapatkan pekerjaan yang memang sesuai dengan jiwa dan minat kita yang tidak terbelenggu lagi dengan birokrasi ataupun aturan-aturan perusahaan orang lain baik secara waktu ataupun terbelenggu dari ikatan atasan bawahan atau dari peraturan-peraturan lainnya. 

Mungkin ini adalah cerita yang menjadi mimpi bagi banyak orang termasuk diri saya, Bebas dari segala aturan, bebas dari mengatur waktu, bebas dari ocehan-ocehan orang yang memiliki kepentingan atau dari orang-orang yang suka melempar kesalahan untuk mengamankan dirinya atau orang-orang yang sibuk saling menjatuhkan di depan orang lain bahkan di depan pemilik perusahan dan yang paling terpenting adalah memiliki banyak waktu untuk beribadah mendekatkan diri dengan Tuhan dan juga banyak waktu untuk keluarga dan pastinya mendapatkan kecukupan rejeki dari pekerjaan baru yang dijalani.  

Semoga pekerjaan yang mungkin menjadi mimpi bagi sebagian orang ini bisa segera terwujudkan segera dalam waktu dekat dan bisa membawa kebahagiaan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga dan juga orang-orang di sekeliling kita yang memang membutuhkan bantuan dari diri kita semua. Aamiin.... 

Inilah kisahku

Menjadi anak sales memang tidak mudah apalagi harus mengejar target. Di tengah situasi yang sangat sulit, keadaan ekonomi sulit, daya beli masyarakat lemah, tentu menjadi tantangan anak sales untuk memperebutkan budget klien yang semakin mengecil. belum lagi tantangan disrupsi media dimana seiring perkembangan teknologi klien percaya dengan digital dan banyak mengalihkan budget iklannya dari media tradisional ke media digital.

Kita paham dunia terus berubah seiring perkembangan zaman, sebagaimana terjadinya penemuan pesawat terbang dan telpon dengan kabel yang dulu di anggap mustahil bahkan pesawat telpon yang dahulu bentuknya sangat besar saat ini menjelma menjadi sebuah smartphone yang bahkan melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi atau menjadi multimedia dan multifungsi. Begitu pun dengan dunia kerja, ketika semua yang serba manual berubah menjadi serba digital. Tentu sangat mengguncang dunia bisnis salah satunya bisnis media dan tak sedikit yang akhirnya menyerah dengan keadaan karena tidak bisa mengikuti arah perkembangan zaman tersebut. Sebutkan saja media-media cetak yang akhirnya menyerah dan menutup bisnisnya atau yang akhirnya tetap bertahan namun beralih menjadi digital. Koran cetak menjadi digital, majalah cetak menjadi digital dan radio yang biasanya di gunakan untuk mendengar musik pun berubah menjadi digital. 

Intinya dunia berubah, kebiasaan masyarakat ikut berubah, dunia bisnis media berubah. Ditambah dengan kondisi ekonomi yang masih stagnan, persaingan semakin sengit. Siapa yang kreatif, gesit dan lincah maka dia yang akan mendapatkan budget klien. Perusahaan media semakin berbenah dan tidak sedikit melakukan efisiensi di semua lini termasuk pengurangan SDM demi bertahan hidup.

Bisnis media dalam kompetisi yang sengit memperebutkan budget klien demi mempertahankan bisnisnya. Ada media yang masih menikmati aliran budget klien yang besar namun tetap waspada dan juga melakukan efisiensi. Tapi ada juga media yang kena imbas penurunan budget klien juga waspada dan melakukan efisiensi tapi trus berinvestasi dalam memproduksi program dan berharap mendapatkan jackpot performance sehingga aliran budget klien kembali masuk dengan deras. 

Namun sayangnya, jackpot yang di harapkan tidak kunjung datang dan seakan berjudi dengan keadaan, meskipun tidak ada salahnya untuk mencoba. Tetapi dengan biaya produksi yang cukup tinggi, perusahaan media seperti ini seakan tidak sedang mengalami krisis keuangan. The show must go on meskipun ada konsekuensi besar yang akan di hadapi. Dan sayangnya begitu konsekuensi itu hadir yang pertama kali di evaluasi bukan biaya produksi tinggi dari program yang tidak menghasilkan tersebut namun SDM nya yang lagi-lagi di evaluasi dan akhirnya terjadi efisiensi sdm kembali. 

Sebuah kebijakan dan strategy memang di perlukan dalam menghadapi sebuah krisis tapi juga pemangku kebijakan harus melihat realita atau bersikap realistis terhadap keadaan. Dalam situasi kondisi ekonomi yang semakin susah dan sulit, yang dibutuhkan memang sebuah kreatifitas tapi yang tidak berbiaya tinggi. Apapun itu, biaya harus menjadi pertimbangan terhadap sebuah produk yang akan di produksi dan juga potensi nilai jual dari produk tersebut. Jika secara potensi nilai jual sebuah produk tidak besar maka seharusnya perlu di lakukan evaluasi apakah perlu produk tersebut di produksi. 

Jadi sangat penting untuk memiliki sense of crisis dari suatu keadaan kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja untuk membuat sebuah langkah strategy yang menimbulkan biaya tinggi. Meskipun terkadang ada saja ego dari pemangku kebijakan yang tetap memaksakan langkah strategy untuk menghasilkan produk baru demi terlihat telah melakukan tindakan strategy terhadap krisis yang sedang di hadapi.

Suatu perusahaan akan mengalami dampak dari sebuah tindakan/kebijakan yang di lakukan baik secara bijaksana ataupun tidak bijaksana. Output yg dihasilkan tergantung dari tindakan tersebut. Namun idealnya pemangku kebijakan adalah orang pertama yang harusnya bertanggung jawab dan bukan justru melempar kesalahan kepada orang lain yang akhirnya mengorbankan nasib karyawan-karyawan dibawahnya yang tidak mempunyai kemampuan untuk membela dirinya sendiri.




NPD

NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder atau Gangguan Kepribadian Narsistik. Dalam konteks dunia kerja, NPD mengacu pada perilaku seorang individu yang memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, haus akan pengakuan, dan sering kali kurang empati terhadap orang lain. Jika orang dengan NPD menduduki posisi pimpinan, perilakunya bisa berdampak signifikan pada budaya kerja dan kinerja tim.

NPD adalah kondisi psikologis di mana seseorang memiliki:

  • Rasa penting yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.

  • Keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dan harus diperlakukan istimewa.

  • Kebutuhan yang besar untuk dikagumi, divalidasi, dan diakui oleh orang lain.

  • Kurang empati, sehingga sulit memahami perasaan, kebutuhan, atau sudut pandang orang lain.

Dalam dunia kerja, orang dengan NPD sering kali terlihat ambisius dan penuh percaya diri, tetapi perilakunya bisa merusak hubungan profesional dan menyebabkan konflik

Berikut tanda-tanda umum yang dapat dikenali:

A. Sikap terhadap diri sendiri

  • Terlihat sangat percaya diri namun rapuh jika dikritik.

  • Haus pujian dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.

  • Sering mengambil kredit atau pengakuan atas pekerjaan orang lain.

  • Tidak bisa menerima kesalahan, cenderung menyalahkan orang lain.

B. Sikap terhadap orang lain

  • Kurang empati, tidak peduli dengan perasaan atau kesejahteraan bawahan.

  • Bersikap eksploitatif, memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.

  • Melihat orang lain sebagai kompetitor atau ancaman, bukan rekan kerja.

  • Cenderung merendahkan atau mengkritik bawahan untuk menunjukkan superioritas.

C. Gaya komunikasi

  • Komunikasinya sering mengintimidasi atau merendahkan.

  • Sering menggunakan kata-kata yang memuji dirinya sendiri berlebihan.

  • Bisa bersikap manipulatif, misalnya berpura-pura peduli untuk mendapatkan loyalitas


Seorang pimpinan dengan NPD biasanya memiliki ciri-ciri seperti ini:

Ciri Pimpinan NPDDampak pada Tim & Organisasi
Otoriter & tidak menerima kritikKaryawan takut memberikan masukan, inovasi menurun.
Mencari pujian berlebihanLingkungan kerja penuh “yes man”, tidak sehat.
Kurang empatiTingkat turnover tinggi karena karyawan merasa tidak dihargai.
EksploitatifMemanfaatkan bawahan tanpa memberikan penghargaan yang layak.
Mengambil kreditDemotivasi tim karena prestasi tidak diakui.
ManipulatifLingkungan kerja penuh politik kantor dan intrik.
Mudah tersinggungKonflik sering terjadi, keputusan emosional.

Contoh Perilaku Nyata di Kantor

  • Mengambil alih ide bawahan lalu mengklaim sebagai idenya sendiri.

  • Mengabaikan feedback, bahkan menghukum karyawan yang berani mengkritik.

  • Membuat kebijakan berorientasi pada citra dirinya, bukan kebutuhan perusahaan.

  • Menonjolkan diri di depan manajemen puncak sementara timnya dikorbankan.

  • Selalu ingin terlihat paling pintar, tidak mau mengakui kesalahan


Cara Menghadapi Pimpinan NPD

Jika Anda bekerja dengan atau di bawah pimpinan dengan NPD, berikut beberapa strategi:

  1. Tetap profesional – jangan terpancing emosi.

  2. Dokumentasikan pekerjaan dan prestasi agar sulit bagi dia mengambil kredit.

  3. Gunakan pendekatan diplomatis saat memberi masukan, jangan frontal.

  4. Bangun jaringan dukungan dengan rekan kerja atau atasan lain.

  5. Jika situasinya semakin toksik, pertimbangkan opsi keluar dengan perencanaan matang



Si paling paham, paling ngerti dan paling paling lainnya....

Pernahkah Anda menghadapi seorang pimpinan di perusahaan, yang berada di tingkat direktorat berbeda atau bahkan lebih tinggi lagi, membawahi semua direktorat, namun selalu merasa dirinya paling tahu segalanya? Seolah ia paling paham kondisi pasar, paling pintar membaca klien, dan paling mengerti arah bisnis. Padahal kenyataannya, ia tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jika Anda pernah mengalaminya, berarti kita sama.

Ketika diawal bergabung dalam sebuah perusahaan media, setiap karyawan biasanya diawal bekerja diberikan induksi/orientasi terlebih dahulu tentang gambaran bisnis serta cara kerjanya, pasar serta industrinya.  Materi ini disampaikan dengan tujuan agar dipahami dan menjadi pegangan bersama. Namun sayangnya, seiring waktu berjalan, pengetahuan yang pernah didapat dan di pelajari seakan hilang begitu saja. Apa yang awalnya dipelajari tidak lagi menjadi rujukan, bahkan masukan dari tim yang berpengalaman di lapangan sering kali diabaikan.

Sikap seperti ini jelas menimbulkan masalah. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hati para klien jika di internal saja, sang pemimpin tertinggi enggan mendengar atau memahami argumentasi yang berdasarkan pada realitas industri? Hanya dengan mengandalkan perspektif pribadi tanpa data dan pengalaman, keputusan yang diambil sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan pasar maupun strategi yang tepat.

Memang benar, pada akhirnya tujuan perusahaan adalah revenue. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa revenue bukan datang begitu saja. Revenue lahir dari proses yang panjang: memahami pasar, mendengarkan masukan, membangun relasi, serta memperbaiki cara kerja yang kurang efektif. Jika hanya fokus pada hasil tanpa peduli proses, perusahaan hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama dan sulit berkembang.

Seharusnya, seorang pemimpin besar bukan hanya mengarahkan pada target angka, melainkan juga memberi ruang bagi timnya untuk berpendapat, menghargai masukan, dan belajar dari proses yang ada. Dari proses itu akan terlihat apa yang harus diperbaiki, dipertahankan, atau bahkan ditinggalkan. Dengan begitu, revenue bukan hanya sekadar angka di laporan, tetapi hasil dari kerja kolektif yang dipahami, dijalani, dan dihargai bersama.


Hati Nurani

Dalam dunia kerja, wajar apabila seorang bawahan mengikuti arahan serta kebijakan dari atasan. Struktur organisasi memang dirancang agar setiap orang memahami perannya masing-masing dan menjaga kesinambungan dalam bekerja. Walaupun terkadang terdapat pandangan yang tidak sepenuhnya sejalan, perbedaan tersebut tidak mengurangi tanggung jawab utama seorang bawahan, yaitu mendukung dan melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan oleh pimpinan. Sikap profesional ini menjadi fondasi penting agar roda organisasi tetap berjalan dengan stabil.

Meski demikian, perbedaan pemikiran tidak bisa dihindari. Ada kalanya hati kecil merasakan ketidaksesuaian atau memiliki pandangan lain mengenai arah kebijakan yang ditempuh. Situasi ini sering kali memunculkan dilema: apakah tetap bertahan dengan segala dinamika yang ada, atau mempertimbangkan langkah baru di luar organisasi. Jika pilihan jatuh pada langkah kedua, tentu keputusan itu sebaiknya diambil dengan penuh perhitungan, agar tidak hanya berdasarkan emosi sesaat, melainkan juga mempertimbangkan kepastian masa depan.

Selama masih berada di dalam organisasi, peran bawahan tidak hanya sebatas menjalankan instruksi. Memberikan masukan yang positif dan saran yang membangun juga merupakan bentuk kontribusi nyata. Walaupun tidak semua masukan dapat langsung diterapkan, semangat untuk berbagi ide tetap bernilai, karena dapat membuka peluang bagi perusahaan untuk berkembang lebih baik. Dengan begitu, bawahan tetap berperan aktif dalam memberikan nilai tambah tanpa harus menyalahi aturan atau melampaui batas kewenangan.

Akhirnya, menjaga profesionalisme berarti mampu menyeimbangkan antara loyalitas, integritas, dan sikap proaktif. Bekerja dengan penuh tanggung jawab sekaligus memberikan kontribusi terbaik menunjukkan kedewasaan dalam berkarier. Dunia kerja pada hakikatnya bukan hanya tentang menjalankan instruksi atasan, melainkan juga tentang bagaimana setiap individu mampu tumbuh, belajar, dan menempatkan dirinya secara tepat di dalam ekosistem organisasi.

Working with HEART NOT EGO

Work and collaborate with sincerity, not with ego. Always try to put things in the right place and make decisions with fairness. Do not focus only on what you want, but also listen to what others have to say. True collaboration is built when everyone’s voice is respected and considered.

When you delegate tasks, give them to the right person who is responsible, not just to anyone who is able to do them. This shows professionalism, discipline, and respect for each person’s role. Even small actions like this can give a strong impression about your character and how seriously you value teamwork.

If you continue acting in the wrong way, people will slowly lose respect and trust in you. Remember, collaboration is not just about working together, but also about building respect and trust. Once respect and trust are gone, nothing meaningful will remain in the relationship.

Badai Efisiensi Karyawan

Alkisah di sebuah perusahaan media yang sedang mengalami guncangan keuangan melakukan review dan evaluasi internal. Dalam proses evaluasi te...