Friday, May 29, 2026

Pekerjaan impian

Setiap orang pasti punya mimpi tentang pekerjaannya seperti dahulu di masa kecil dahulu kita sudah ditanyakan ingin menjadi apa kelak jika sudah tumbuh besar. Jawaban-jawaban klasik dan idealis pasti akan terucap pada masa-masa itu, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, astrounot, pengusaha, direktur, dll yang semuanya memang adalah angan-angan atau cita-cita atau mimpi-mimpi dari seorang anak yang belum sepenuhnya mengerti tentang pekerjaan yang mereka ucapkan dan impikan.

Seiring berjalan waktu seseorang akan beranjak tumbuh dan berkembang baik secara usia dan juga pengetahuan dari pendidikan yang sudah di jalani atau juga pengalaman-pengalaman hidup yang sudah dilaluinya. Bagaimana dengan mimpi-mimpinya dahulu di masa kecil? pekerjaaan apa yang sekarang mereka jalani? ada yang memang konsisten mengejar mimpinya tapi ada banyak juga yang akhirnya berubah haluan mengikuti minat dan bakat yang lebih menonjol ketika usia bertambah dan bertumbuh. 

Begitulah kehidupan, pada dasarnya manusia harus memiliki sikap yang lebih fleksibel mengikuti dinamika pertumbuhan jiwa dan bakat yang dimilikinya sampai akhirnya mereka menemukan pekerjaan yang sesuai dan sejalan dengan apa yang menjadi minat dan bakatnya.

Pendidikan seseorang pun belum tentu akan membawa dirinya ke arah pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Banyak sekali orang-orang yang memiliki pekerjaan ternyata secara latar belakang pendidikannya tidak sesuai. Ada yang latar belakang pendidikannya pertanian dan bekerja di perbankan, ada yang latar belakangnya ekonomi ternyata lebih senang bertani atau berternak, dlsb. 

Begitu juga dengan seseorang yang sudah memiliki pekerjaan dengan mapan, seiring berjalan waktu tiba-tiba bisa membanting haluan berhenti dari pekerjaannya yang mapan tersebut dengan meninggalkan semua fasilitas-fasilitas perusahaan yang sudah didapat dan dinikmatinya dan rela pindah haluan pekerjaan yang disukainya dan memulai dari bawah lagi. 

Dan ternyata pekerjaan itulah yang akhirnya membawa dirinya menemukan kesejatian bekerja dari pekerjaannya yang terdahulu. Rejeki yang didapat benar-benar bergantung dari kesungguhan dirinya bekerja bukan dari orang lain. Dan dirinya lebih bisa mengalokasikan banyak waktu untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang pencipta  dan yang paling penting adalah bisa banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarga tercinta, istri dan anak-anak di rumah atau pun menghabiskan waktu diluar rumah bersama. 

Alangkah indahnya jika kita bisa memiliki atau mendapatkan pekerjaan yang memang sesuai dengan jiwa dan minat kita yang tidak terbelenggu lagi dengan birokrasi ataupun aturan-aturan perusahaan orang lain baik secara waktu ataupun terbelenggu dari ikatan atasan bawahan atau dari peraturan-peraturan lainnya. 

Mungkin ini adalah cerita yang menjadi mimpi bagi banyak orang termasuk diri saya, Bebas dari segala aturan, bebas dari mengatur waktu, bebas dari ocehan-ocehan orang yang memiliki kepentingan atau dari orang-orang yang suka melempar kesalahan untuk mengamankan dirinya atau orang-orang yang sibuk saling menjatuhkan di depan orang lain bahkan di depan pemilik perusahan dan yang paling terpenting adalah memiliki banyak waktu untuk beribadah mendekatkan diri dengan Tuhan dan juga banyak waktu untuk keluarga dan pastinya mendapatkan kecukupan rejeki dari pekerjaan baru yang dijalani.  

Semoga pekerjaan yang mungkin menjadi mimpi bagi sebagian orang ini bisa segera terwujudkan segera dalam waktu dekat dan bisa membawa kebahagiaan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga dan juga orang-orang di sekeliling kita yang memang membutuhkan bantuan dari diri kita semua. Aamiin.... 

Inilah kisahku

Menjadi anak sales memang tidak mudah apalagi harus mengejar target. Di tengah situasi yang sangat sulit, keadaan ekonomi sulit, daya beli masyarakat lemah, tentu menjadi tantangan anak sales untuk memperebutkan budget klien yang semakin mengecil. belum lagi tantangan disrupsi media dimana seiring perkembangan teknologi klien percaya dengan digital dan banyak mengalihkan budget iklannya dari media tradisional ke media digital.

Kita paham dunia terus berubah seiring perkembangan zaman, sebagaimana terjadinya penemuan pesawat terbang dan telpon dengan kabel yang dulu di anggap mustahil bahkan pesawat telpon yang dahulu bentuknya sangat besar saat ini menjelma menjadi sebuah smartphone yang bahkan melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi atau menjadi multimedia dan multifungsi. Begitu pun dengan dunia kerja, ketika semua yang serba manual berubah menjadi serba digital. Tentu sangat mengguncang dunia bisnis salah satunya bisnis media dan tak sedikit yang akhirnya menyerah dengan keadaan karena tidak bisa mengikuti arah perkembangan zaman tersebut. Sebutkan saja media-media cetak yang akhirnya menyerah dan menutup bisnisnya atau yang akhirnya tetap bertahan namun beralih menjadi digital. Koran cetak menjadi digital, majalah cetak menjadi digital dan radio yang biasanya di gunakan untuk mendengar musik pun berubah menjadi digital. 

Intinya dunia berubah, kebiasaan masyarakat ikut berubah, dunia bisnis media berubah. Ditambah dengan kondisi ekonomi yang masih stagnan, persaingan semakin sengit. Siapa yang kreatif, gesit dan lincah maka dia yang akan mendapatkan budget klien. Perusahaan media semakin berbenah dan tidak sedikit melakukan efisiensi di semua lini termasuk pengurangan SDM demi bertahan hidup.

Bisnis media dalam kompetisi yang sengit memperebutkan budget klien demi mempertahankan bisnisnya. Ada media yang masih menikmati aliran budget klien yang besar namun tetap waspada dan juga melakukan efisiensi. Tapi ada juga media yang kena imbas penurunan budget klien juga waspada dan melakukan efisiensi tapi trus berinvestasi dalam memproduksi program dan berharap mendapatkan jackpot performance sehingga aliran budget klien kembali masuk dengan deras. 

Namun sayangnya, jackpot yang di harapkan tidak kunjung datang dan seakan berjudi dengan keadaan, meskipun tidak ada salahnya untuk mencoba. Tetapi dengan biaya produksi yang cukup tinggi, perusahaan media seperti ini seakan tidak sedang mengalami krisis keuangan. The show must go on meskipun ada konsekuensi besar yang akan di hadapi. Dan sayangnya begitu konsekuensi itu hadir yang pertama kali di evaluasi bukan biaya produksi tinggi dari program yang tidak menghasilkan tersebut namun SDM nya yang lagi-lagi di evaluasi dan akhirnya terjadi efisiensi sdm kembali. 

Sebuah kebijakan dan strategy memang di perlukan dalam menghadapi sebuah krisis tapi juga pemangku kebijakan harus melihat realita atau bersikap realistis terhadap keadaan. Dalam situasi kondisi ekonomi yang semakin susah dan sulit, yang dibutuhkan memang sebuah kreatifitas tapi yang tidak berbiaya tinggi. Apapun itu, biaya harus menjadi pertimbangan terhadap sebuah produk yang akan di produksi dan juga potensi nilai jual dari produk tersebut. Jika secara potensi nilai jual sebuah produk tidak besar maka seharusnya perlu di lakukan evaluasi apakah perlu produk tersebut di produksi. 

Jadi sangat penting untuk memiliki sense of crisis dari suatu keadaan kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja untuk membuat sebuah langkah strategy yang menimbulkan biaya tinggi. Meskipun terkadang ada saja ego dari pemangku kebijakan yang tetap memaksakan langkah strategy untuk menghasilkan produk baru demi terlihat telah melakukan tindakan strategy terhadap krisis yang sedang di hadapi.

Suatu perusahaan akan mengalami dampak dari sebuah tindakan/kebijakan yang di lakukan baik secara bijaksana ataupun tidak bijaksana. Output yg dihasilkan tergantung dari tindakan tersebut. Namun idealnya pemangku kebijakan adalah orang pertama yang harusnya bertanggung jawab dan bukan justru melempar kesalahan kepada orang lain yang akhirnya mengorbankan nasib karyawan-karyawan dibawahnya yang tidak mempunyai kemampuan untuk membela dirinya sendiri.




NPD

NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder atau Gangguan Kepribadian Narsistik. Dalam konteks dunia kerja, NPD mengacu pada perilaku seorang individu yang memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, haus akan pengakuan, dan sering kali kurang empati terhadap orang lain. Jika orang dengan NPD menduduki posisi pimpinan, perilakunya bisa berdampak signifikan pada budaya kerja dan kinerja tim.

NPD adalah kondisi psikologis di mana seseorang memiliki:

  • Rasa penting yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.

  • Keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dan harus diperlakukan istimewa.

  • Kebutuhan yang besar untuk dikagumi, divalidasi, dan diakui oleh orang lain.

  • Kurang empati, sehingga sulit memahami perasaan, kebutuhan, atau sudut pandang orang lain.

Dalam dunia kerja, orang dengan NPD sering kali terlihat ambisius dan penuh percaya diri, tetapi perilakunya bisa merusak hubungan profesional dan menyebabkan konflik

Berikut tanda-tanda umum yang dapat dikenali:

A. Sikap terhadap diri sendiri

  • Terlihat sangat percaya diri namun rapuh jika dikritik.

  • Haus pujian dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.

  • Sering mengambil kredit atau pengakuan atas pekerjaan orang lain.

  • Tidak bisa menerima kesalahan, cenderung menyalahkan orang lain.

B. Sikap terhadap orang lain

  • Kurang empati, tidak peduli dengan perasaan atau kesejahteraan bawahan.

  • Bersikap eksploitatif, memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.

  • Melihat orang lain sebagai kompetitor atau ancaman, bukan rekan kerja.

  • Cenderung merendahkan atau mengkritik bawahan untuk menunjukkan superioritas.

C. Gaya komunikasi

  • Komunikasinya sering mengintimidasi atau merendahkan.

  • Sering menggunakan kata-kata yang memuji dirinya sendiri berlebihan.

  • Bisa bersikap manipulatif, misalnya berpura-pura peduli untuk mendapatkan loyalitas


Seorang pimpinan dengan NPD biasanya memiliki ciri-ciri seperti ini:

Ciri Pimpinan NPDDampak pada Tim & Organisasi
Otoriter & tidak menerima kritikKaryawan takut memberikan masukan, inovasi menurun.
Mencari pujian berlebihanLingkungan kerja penuh “yes man”, tidak sehat.
Kurang empatiTingkat turnover tinggi karena karyawan merasa tidak dihargai.
EksploitatifMemanfaatkan bawahan tanpa memberikan penghargaan yang layak.
Mengambil kreditDemotivasi tim karena prestasi tidak diakui.
ManipulatifLingkungan kerja penuh politik kantor dan intrik.
Mudah tersinggungKonflik sering terjadi, keputusan emosional.

Contoh Perilaku Nyata di Kantor

  • Mengambil alih ide bawahan lalu mengklaim sebagai idenya sendiri.

  • Mengabaikan feedback, bahkan menghukum karyawan yang berani mengkritik.

  • Membuat kebijakan berorientasi pada citra dirinya, bukan kebutuhan perusahaan.

  • Menonjolkan diri di depan manajemen puncak sementara timnya dikorbankan.

  • Selalu ingin terlihat paling pintar, tidak mau mengakui kesalahan


Cara Menghadapi Pimpinan NPD

Jika Anda bekerja dengan atau di bawah pimpinan dengan NPD, berikut beberapa strategi:

  1. Tetap profesional – jangan terpancing emosi.

  2. Dokumentasikan pekerjaan dan prestasi agar sulit bagi dia mengambil kredit.

  3. Gunakan pendekatan diplomatis saat memberi masukan, jangan frontal.

  4. Bangun jaringan dukungan dengan rekan kerja atau atasan lain.

  5. Jika situasinya semakin toksik, pertimbangkan opsi keluar dengan perencanaan matang



Si paling paham, paling ngerti dan paling paling lainnya....

Pernahkah Anda menghadapi seorang pimpinan di perusahaan, yang berada di tingkat direktorat berbeda atau bahkan lebih tinggi lagi, membawahi semua direktorat, namun selalu merasa dirinya paling tahu segalanya? Seolah ia paling paham kondisi pasar, paling pintar membaca klien, dan paling mengerti arah bisnis. Padahal kenyataannya, ia tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jika Anda pernah mengalaminya, berarti kita sama.

Ketika diawal bergabung dalam sebuah perusahaan media, setiap karyawan biasanya diawal bekerja diberikan induksi/orientasi terlebih dahulu tentang gambaran bisnis serta cara kerjanya, pasar serta industrinya.  Materi ini disampaikan dengan tujuan agar dipahami dan menjadi pegangan bersama. Namun sayangnya, seiring waktu berjalan, pengetahuan yang pernah didapat dan di pelajari seakan hilang begitu saja. Apa yang awalnya dipelajari tidak lagi menjadi rujukan, bahkan masukan dari tim yang berpengalaman di lapangan sering kali diabaikan.

Sikap seperti ini jelas menimbulkan masalah. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hati para klien jika di internal saja, sang pemimpin tertinggi enggan mendengar atau memahami argumentasi yang berdasarkan pada realitas industri? Hanya dengan mengandalkan perspektif pribadi tanpa data dan pengalaman, keputusan yang diambil sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan pasar maupun strategi yang tepat.

Memang benar, pada akhirnya tujuan perusahaan adalah revenue. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa revenue bukan datang begitu saja. Revenue lahir dari proses yang panjang: memahami pasar, mendengarkan masukan, membangun relasi, serta memperbaiki cara kerja yang kurang efektif. Jika hanya fokus pada hasil tanpa peduli proses, perusahaan hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama dan sulit berkembang.

Seharusnya, seorang pemimpin besar bukan hanya mengarahkan pada target angka, melainkan juga memberi ruang bagi timnya untuk berpendapat, menghargai masukan, dan belajar dari proses yang ada. Dari proses itu akan terlihat apa yang harus diperbaiki, dipertahankan, atau bahkan ditinggalkan. Dengan begitu, revenue bukan hanya sekadar angka di laporan, tetapi hasil dari kerja kolektif yang dipahami, dijalani, dan dihargai bersama.


Hati Nurani

Dalam dunia kerja, wajar apabila seorang bawahan mengikuti arahan serta kebijakan dari atasan. Struktur organisasi memang dirancang agar setiap orang memahami perannya masing-masing dan menjaga kesinambungan dalam bekerja. Walaupun terkadang terdapat pandangan yang tidak sepenuhnya sejalan, perbedaan tersebut tidak mengurangi tanggung jawab utama seorang bawahan, yaitu mendukung dan melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan oleh pimpinan. Sikap profesional ini menjadi fondasi penting agar roda organisasi tetap berjalan dengan stabil.

Meski demikian, perbedaan pemikiran tidak bisa dihindari. Ada kalanya hati kecil merasakan ketidaksesuaian atau memiliki pandangan lain mengenai arah kebijakan yang ditempuh. Situasi ini sering kali memunculkan dilema: apakah tetap bertahan dengan segala dinamika yang ada, atau mempertimbangkan langkah baru di luar organisasi. Jika pilihan jatuh pada langkah kedua, tentu keputusan itu sebaiknya diambil dengan penuh perhitungan, agar tidak hanya berdasarkan emosi sesaat, melainkan juga mempertimbangkan kepastian masa depan.

Selama masih berada di dalam organisasi, peran bawahan tidak hanya sebatas menjalankan instruksi. Memberikan masukan yang positif dan saran yang membangun juga merupakan bentuk kontribusi nyata. Walaupun tidak semua masukan dapat langsung diterapkan, semangat untuk berbagi ide tetap bernilai, karena dapat membuka peluang bagi perusahaan untuk berkembang lebih baik. Dengan begitu, bawahan tetap berperan aktif dalam memberikan nilai tambah tanpa harus menyalahi aturan atau melampaui batas kewenangan.

Akhirnya, menjaga profesionalisme berarti mampu menyeimbangkan antara loyalitas, integritas, dan sikap proaktif. Bekerja dengan penuh tanggung jawab sekaligus memberikan kontribusi terbaik menunjukkan kedewasaan dalam berkarier. Dunia kerja pada hakikatnya bukan hanya tentang menjalankan instruksi atasan, melainkan juga tentang bagaimana setiap individu mampu tumbuh, belajar, dan menempatkan dirinya secara tepat di dalam ekosistem organisasi.

Working with HEART NOT EGO

Work and collaborate with sincerity, not with ego. Always try to put things in the right place and make decisions with fairness. Do not focus only on what you want, but also listen to what others have to say. True collaboration is built when everyone’s voice is respected and considered.

When you delegate tasks, give them to the right person who is responsible, not just to anyone who is able to do them. This shows professionalism, discipline, and respect for each person’s role. Even small actions like this can give a strong impression about your character and how seriously you value teamwork.

If you continue acting in the wrong way, people will slowly lose respect and trust in you. Remember, collaboration is not just about working together, but also about building respect and trust. Once respect and trust are gone, nothing meaningful will remain in the relationship.

The True Captain : A Leader Sets the Course, Not Asks for One

As the captain, it is your responsibility to determine the course and the destination of the voyage. Leadership is not about shifting that responsibility onto others but about providing clarity and direction. The crew looks to you for vision and guidance, and it is your duty to set the path forward. Only after you have defined your goals and strategy should you invite your team to provide feedback and suggestions to refine the plan.

If you place the burden of deciding the course entirely on your crew, you risk creating confusion and uncertainty. The role of the leader is not to abdicate decision-making, but to inspire confidence by communicating purpose. The crew can and should contribute valuable insights, but they cannot replace the responsibility that rests on your shoulders as the one steering the ship.

Now, consider a situation where you ask your crew to determine the course and the destination. They may spend time and effort providing proposals and ideas, only for you to ultimately dismiss them because you already had a different vision in mind. Such a scenario creates frustration, diminishes trust, and undermines the respect that is essential for effective leadership.

Therefore, before requesting input from your crew, you must be clear with yourself first: Where do you truly want to go? What is the ultimate destination and purpose of this voyage? Once you have articulated this vision, your crew can then assist in refining the journey, optimizing strategies, and offering practical adjustments. Their role is to support and strengthen your direction, not to create it in your place.

In essence, leadership demands clarity, decisiveness, and accountability. Asking your crew to determine the direction while you already have a different course in mind serves no one—it only wastes time and erodes confidence. The true measure of a captain lies not in avoiding responsibility, but in defining the vision, communicating it clearly, and guiding the entire team with purpose and conviction.


===============================================================

Sebagai kapten, adalah tanggung jawabmu untuk menentukan arah dan tujuan pelayaran. Kepemimpinan bukan tentang mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang lain, melainkan tentang memberikan kejelasan dan arah. Awak kapal memandangmu untuk mendapatkan visi dan bimbingan, dan adalah kewajibanmu untuk menetapkan jalan ke depan. Hanya setelah kamu mendefinisikan tujuan dan strategimu, barulah kamu mengundang timmu untuk memberikan umpan balik dan saran guna menyempurnakan rencana tersebut.

Jika kamu meletakkan beban pengambilan keputusan sepenuhnya kepada awakmu, kamu berisiko menciptakan kebingungan dan ketidakpastian. Peran seorang pemimpin bukan untuk melepaskan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, melainkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dengan mengomunikasikan tujuan. Awak kapal dapat dan seharusnya memberikan wawasan yang berharga, namun mereka tidak dapat menggantikan tanggung jawab yang ada di pundakmu sebagai orang yang mengemudikan kapal.

Sekarang, bayangkan sebuah situasi di mana kamu meminta awakmu untuk menentukan arah dan tujuan perjalanan. Mereka mungkin menghabiskan waktu dan tenaga untuk memberikan usulan dan gagasan, hanya untuk pada akhirnya kamu abaikan begitu saja karena kamu sudah memiliki visi yang berbeda dalam pikiranmu. Skenario seperti itu menciptakan rasa frustrasi, mengikis kepercayaan, dan merusak rasa hormat yang sangat penting bagi kepemimpinan yang efektif.

Oleh karena itu, sebelum meminta masukan dari awakmu, kamu harus terlebih dahulu jelas dengan dirimu sendiri: Ke mana sesungguhnya kamu ingin pergi? Apa tujuan akhir dan makna dari pelayaran ini? Setelah kamu mampu mengungkapkan visi tersebut, barulah awakmu dapat membantu menyempurnakan perjalanan, mengoptimalkan strategi, dan menawarkan penyesuaian yang praktis. Peran mereka adalah mendukung dan memperkuat arahmu, bukan menciptakannya sebagai gantimu.

Pada intinya, kepemimpinan menuntut kejelasan, ketegasan, dan akuntabilitas. Meminta awakmu menentukan arah sementara kamu sudah memiliki haluan yang berbeda dalam pikiranmu tidak menguntungkan siapa pun — itu hanya membuang waktu dan mengikis kepercayaan. Ukuran sejati seorang kapten bukan terletak pada menghindari tanggung jawab, melainkan pada mendefinisikan visi, mengomunikasikannya dengan jelas, dan memimpin seluruh tim dengan tujuan dan keyakinan.

Crisis of Self-Confidence

Sometimes, people struggle with self-confidence. Even when they have the ability and knowledge, they may still feel unsure about their actions. This feeling of doubt can create unnecessary pressure and make it harder to grow as a person and as a leader.

For a leader, confidence is very important. If you are not sure about yourself, your team may notice it. When that happens, they may respect you less, because they see you acting more like a boss who gives orders instead of a leader who guides and inspires. A true leader builds trust, shows direction, and helps the team grow together.

Another challenge is when decisions are not made fairly. Sometimes leaders give tasks only to people they like or to those they feel comfortable with. This can create frustration in the team, because the right person for the job may not get the chance to do it. Good leadership means giving the right tasks to the right people, so everyone can feel valued and responsible.

To improve, try to believe more in yourself and your abilities. Trust that you are capable, and practice giving fair opportunities to your team. By doing this, you will not only gain more respect, but also create a stronger, happier, and more successful team.

Hadapi Kesulitan mu

Yang namanya manusia selagi masih bernafas dan memiliki kegiatan, interaksi dan kebutuhan pasti sesekali menemukan atau mungkin sering menemukan atau dihadapkan pada sebuah permasalahan. Terlepas permasalahan itu ringan, biasa-biasa saja atau bahkan sampai permasalahan yang berat. Namun hidup harus terus berjalan, jadi yang namanya permasalahan seringan atau sesulit apapun memang tetap harus kita hadapi dan harus kita lewati.  

Permasalahan-permasalahan hidup yang kita hadapi itu saya ibaratkan seperti persoalan kemacetan lalu lintas di jalan saat kita hendak berangkat kerja di pagi hari. Pasti para pekerja yang memiliki rumah di area perbatasan Jakarta atau mungkin luar Jakarta jika hendak memasuki Jakarta saat berangkat kerja di pagi hari sering mengalami hal seperti ini. Dan hampir semua rute untuk akses masuk ke Jakarta di pagi hari pasti akan menemukan kemacetan. Mau pakai akses jalan lewat tol pasti kena kemacetan apalagi jalan biasa selain akan menemukan kemacetan, durasi perjalanan pun bisa bertambah 25%-50% tergantung kondisi lalu lintasnya. 

Lalu bagaimana kita menyikapinya kemacetan tersebut..? Ya dihadapi dan di jalani, karena memang kemacetan tersebut harus di lewati dan di nikmati dengan penuh kesabaran. Dan tak ada gunanya kita marah-marah menggurutu, atau bahkan berhenti dijalan atau berusaha mencari jalan alternatif di tengah kemacetan karena kita pasti akan menghadapi dan menemukan hal yang sama. Jadi memang harus dihadapi, dijalani, dilewati, dinikmati dengan penuh kesabaran karena pasti kita pada akhirnya bisa melewati kemacetan tersebut. Separah apapun kemacetannya pasti nanti akan terurai juga. Begitu pula ketika kita menghadapi persoalan atau kesulitan dibidang lainnya. Semua harus di hadapi dan di lewati, karena yakinlah badai pasti akan berlalu sebagaimana kita akhirnya bisa melewati kemacetan di jalan. 

Semua akan sampai pada waktunya

Melihat dan menyaksikan serta melepas rekan kerja yang pensiun seperti mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa usia akan terus bertambah dan akan sampai pada satu titik waktu dimana akhirnya seorang karyawan disebuah perusahaan masuk usia purna tugas dan melepas semua jabatan dan pekerjaannya disaat itu juga. Terlepas beberapa perusahaan mempunyai kebijakan memperpanjang masa kerja karyawan setelah masuk usia pensiun, tapi tetap akhirnya akan purna tugas juga.

Begitu pula usia manusia hidup di dunia, Allah sudah tetapkan usia hidup dari masing-masing hambaNya saat ditiupkan ruh kedalam jasad manusianya. Yang membedakan purna tugas dari pekerjaan bisa kita ketahui waktunya namun kita tidak pernah tahu waktu purna tugas kita dari kehidupan dunia. Semua hanyalah Allah yang Maha Mengetahuinya. 

Seseorang saat mengetahui akan memasuki usia purna tugas dalam pekerjaannya mungkin sudah mempersiapkan hal-hal yang akan dilakukan pasca purna tugasnya termasuk segala kebutuhan-kebutuhannya. Namun berbeda dengan purna tugas dari kehidupan alam dunia yang kita tidak tahu kapan waktunya. Jadi, persiapan tersebut tidak harus menunggu usia menua karena kembali kepada sang Khalik tidak mengenal usia tua maupun muda. Oleh karenanya berbuat baiklah selalu kapanpun dan dimanapun kepada siapapun sebagai bekal untuk kita kembali pulang ke kampung halaman sejatinya kita atau telah sampai waktu kita purna tugas dari kehidupan alam dunia. 



Pekerjaan impian

Setiap orang pasti punya mimpi tentang pekerjaannya seperti dahulu di masa kecil dahulu kita sudah ditanyakan ingin menjadi apa kelak jika s...