Friday, May 29, 2026

Inilah kisahku

Menjadi anak sales memang tidak mudah apalagi harus mengejar target. Di tengah situasi yang sangat sulit, keadaan ekonomi sulit, daya beli masyarakat lemah, tentu menjadi tantangan anak sales untuk memperebutkan budget klien yang semakin mengecil. belum lagi tantangan disrupsi media dimana seiring perkembangan teknologi klien percaya dengan digital dan banyak mengalihkan budget iklannya dari media tradisional ke media digital.

Kita paham dunia terus berubah seiring perkembangan zaman, sebagaimana terjadinya penemuan pesawat terbang dan telpon dengan kabel yang dulu di anggap mustahil bahkan pesawat telpon yang dahulu bentuknya sangat besar saat ini menjelma menjadi sebuah smartphone yang bahkan melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi atau menjadi multimedia dan multifungsi. Begitu pun dengan dunia kerja, ketika semua yang serba manual berubah menjadi serba digital. Tentu sangat mengguncang dunia bisnis salah satunya bisnis media dan tak sedikit yang akhirnya menyerah dengan keadaan karena tidak bisa mengikuti arah perkembangan zaman tersebut. Sebutkan saja media-media cetak yang akhirnya menyerah dan menutup bisnisnya atau yang akhirnya tetap bertahan namun beralih menjadi digital. Koran cetak menjadi digital, majalah cetak menjadi digital dan radio yang biasanya di gunakan untuk mendengar musik pun berubah menjadi digital. 

Intinya dunia berubah, kebiasaan masyarakat ikut berubah, dunia bisnis media berubah. Ditambah dengan kondisi ekonomi yang masih stagnan, persaingan semakin sengit. Siapa yang kreatif, gesit dan lincah maka dia yang akan mendapatkan budget klien. Perusahaan media semakin berbenah dan tidak sedikit melakukan efisiensi di semua lini termasuk pengurangan SDM demi bertahan hidup.

Bisnis media dalam kompetisi yang sengit memperebutkan budget klien demi mempertahankan bisnisnya. Ada media yang masih menikmati aliran budget klien yang besar namun tetap waspada dan juga melakukan efisiensi. Tapi ada juga media yang kena imbas penurunan budget klien juga waspada dan melakukan efisiensi tapi trus berinvestasi dalam memproduksi program dan berharap mendapatkan jackpot performance sehingga aliran budget klien kembali masuk dengan deras. 

Namun sayangnya, jackpot yang di harapkan tidak kunjung datang dan seakan berjudi dengan keadaan, meskipun tidak ada salahnya untuk mencoba. Tetapi dengan biaya produksi yang cukup tinggi, perusahaan media seperti ini seakan tidak sedang mengalami krisis keuangan. The show must go on meskipun ada konsekuensi besar yang akan di hadapi. Dan sayangnya begitu konsekuensi itu hadir yang pertama kali di evaluasi bukan biaya produksi tinggi dari program yang tidak menghasilkan tersebut namun SDM nya yang lagi-lagi di evaluasi dan akhirnya terjadi efisiensi sdm kembali. 

Sebuah kebijakan dan strategy memang di perlukan dalam menghadapi sebuah krisis tapi juga pemangku kebijakan harus melihat realita atau bersikap realistis terhadap keadaan. Dalam situasi kondisi ekonomi yang semakin susah dan sulit, yang dibutuhkan memang sebuah kreatifitas tapi yang tidak berbiaya tinggi. Apapun itu, biaya harus menjadi pertimbangan terhadap sebuah produk yang akan di produksi dan juga potensi nilai jual dari produk tersebut. Jika secara potensi nilai jual sebuah produk tidak besar maka seharusnya perlu di lakukan evaluasi apakah perlu produk tersebut di produksi. 

Jadi sangat penting untuk memiliki sense of crisis dari suatu keadaan kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja untuk membuat sebuah langkah strategy yang menimbulkan biaya tinggi. Meskipun terkadang ada saja ego dari pemangku kebijakan yang tetap memaksakan langkah strategy untuk menghasilkan produk baru demi terlihat telah melakukan tindakan strategy terhadap krisis yang sedang di hadapi.

Suatu perusahaan akan mengalami dampak dari sebuah tindakan/kebijakan yang di lakukan baik secara bijaksana ataupun tidak bijaksana. Output yg dihasilkan tergantung dari tindakan tersebut. Namun idealnya pemangku kebijakan adalah orang pertama yang harusnya bertanggung jawab dan bukan justru melempar kesalahan kepada orang lain yang akhirnya mengorbankan nasib karyawan-karyawan dibawahnya yang tidak mempunyai kemampuan untuk membela dirinya sendiri.




No comments:

JALAN LURUS - Mengemudi Hati di Era Distraksi

Sinopsis Di tengah gemerlap Jakarta yang didikte oleh algoritma media sosial, tren flexing, dan tuntutan sukses instan, Farhan terjebak dala...