Pernahkah Anda menghadapi seorang pimpinan di perusahaan, yang berada di tingkat direktorat berbeda atau bahkan lebih tinggi lagi, membawahi semua direktorat, namun selalu merasa dirinya paling tahu segalanya? Seolah ia paling paham kondisi pasar, paling pintar membaca klien, dan paling mengerti arah bisnis. Padahal kenyataannya, ia tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jika Anda pernah mengalaminya, berarti kita sama.
Ketika diawal bergabung dalam sebuah perusahaan media, setiap karyawan biasanya diawal bekerja diberikan induksi/orientasi terlebih dahulu tentang gambaran bisnis serta cara kerjanya, pasar serta industrinya. Materi ini disampaikan dengan tujuan agar dipahami dan menjadi pegangan bersama. Namun sayangnya, seiring waktu berjalan, pengetahuan yang pernah didapat dan di pelajari seakan hilang begitu saja. Apa yang awalnya dipelajari tidak lagi menjadi rujukan, bahkan masukan dari tim yang berpengalaman di lapangan sering kali diabaikan.
Sikap seperti ini jelas menimbulkan masalah. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hati para klien jika di internal saja, sang pemimpin tertinggi enggan mendengar atau memahami argumentasi yang berdasarkan pada realitas industri? Hanya dengan mengandalkan perspektif pribadi tanpa data dan pengalaman, keputusan yang diambil sering kali tidak sejalan dengan kebutuhan pasar maupun strategi yang tepat.
Memang benar, pada akhirnya tujuan perusahaan adalah revenue. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa revenue bukan datang begitu saja. Revenue lahir dari proses yang panjang: memahami pasar, mendengarkan masukan, membangun relasi, serta memperbaiki cara kerja yang kurang efektif. Jika hanya fokus pada hasil tanpa peduli proses, perusahaan hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama dan sulit berkembang.
Seharusnya, seorang pemimpin besar bukan hanya mengarahkan pada target angka, melainkan juga memberi ruang bagi timnya untuk berpendapat, menghargai masukan, dan belajar dari proses yang ada. Dari proses itu akan terlihat apa yang harus diperbaiki, dipertahankan, atau bahkan ditinggalkan. Dengan begitu, revenue bukan hanya sekadar angka di laporan, tetapi hasil dari kerja kolektif yang dipahami, dijalani, dan dihargai bersama.
No comments:
Post a Comment