Monday, August 07, 2006

Pentingnya Suasana Hati dalam Bekerja

Seorang sahabat pernah berkata tentang alasan keinginan dia kluar dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang dan pindah ke tempat lain. Dia pun berkata, "Serumit apapun pekerjaannya insyaAllah bisa dikerjakan dan diselesaikan, asal……"

Kalimatnya sempat terputus, namun kemudian dia memberikan gerak tubuh yaitu menunjuk kearah dada tepatnya dibagian tengah dada, sebagai sebuah jawaban.

Aku coba mengerti dan memahami bahwa mungkin yg dimaksud adalah hatinya atau suasana hatinya. Namun untuk meyakinkan diri, aku bertanya tentang maksud dari bahasa dan gerak tubuhnya itu. Dan ia pun menjelaskan bahwa dalam bekerja jika hati kita tenang, nyaman dan senang semua pkerjaan pasti bisa terselesaikan serumit apapun bentuk nya atau dengan kata lain nothing is impossible, impossible is nothing. Kemudian muncul pertanyaan dalam diriku tentang apa yg menyebabkan dirinya atau suasana hatinya merasa sperti itu.

Namun sebelum aku bertanya, aku pun sedikit mencoba menerka-nerka faktor yg bisa menyebabkan hal itu terjadi. Karena bisa saja mungkin itu pernah atau mungkin kelak terjadi dengan diriku sendiri. Diantaranya adalah kesesuaian antara pekerjaan yg di emban dengan pendapatan yg diterima. Jika ada ketidakseimbangan antara dua hal ini, maka bisa jadi hal ini bisa memicu rasa ketaknyamanan. Sehingga ia memutuskan berhenti dan pindah ke perusahaan lain dengan pendapatan yg lebih baik atau sesuai dengan pekerjaannya. Kemudian faktor lingkungan kerja, kekeluargaan dan iklim kerja yg sehat juga merupakan factor yg penting dimana jika lingkungan kerja yg tidak sehat dan sering terjadi pergesekan apalagi persaingan tidak sehat yg saling menjatuhkan otomatis akan membuat seseorang tidak akan bertahan lama bekerja ditempat tersebut. Apalagi jika lingkungan kerja sudah tidak sehat maka otomatis unsur kekeluargaan pun bisa jadi tidak akan pernah atau sulit terwujud.

Dan didalam faktor lingkungan kerja ada satu hal yg penting jg dan perlu dperhatikan yaitu, bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan.

Bermacam-macam memang karakter atau typical seorang atasan atau pimpinan. Tapi yg pasti seorang atasan yg diharapkan dari bawahan adalah sikap yg tidak bossy dan arogan. Artinya, memang secara jabatan posisinya lebih tinggi namun jika bisa menempatkan atau memposisikan diri sebagai partner kerja yg baik akan membuat suasana dan hubungan kerja menjadi lebih cair dan insyaAllah komunikasi akan lebih terbuka antara seorang atasan dan bawahan. Selain itu bisa mendelegasikan dan memberikan arahan yg tepat atas tugas-tugas yg perlu di kerjakan sehingga bisa mencapai target atau terselesaikan dengan baik.

Mampu memberikan contoh yg baik dan menjadi tauladan tentu salah satu sifat yg jg harus dimiliki seorang atasan. Sikap deskrimatif, pilih kasih dan keberpihakan jg sifat yg perlu dihindari oleh seorang atasan karena akan membuat kecemburuan sosial dalam pekerjaan. Artinya, seorang atasan harus bisa mendelegasikan tugas atau jobdes secara adil dan jelas tanggung jawab nya. Sehingga jika terjadi kesalahan tidak terjadi saling lempar tanggung jawab atau saling mensalahkan. Dan jika sewaktu-waktu terjadi kesalahan yg dilakukan oleh seorang bawahan, seorang atasan jangan hanya mampu mensalahkan (dan bahkan memarahi yg tidak pada tempat tanpa melihat situasi dan kondisi disekelilingnya) seorang bawahan tanpa membantu mencarikan solusinya. Karena tentu saja itu akan menghambat pekerjaan yg lainnya jika persoalan(kesalahan) tersebut tidak kunjung selesai.

Dan terkadang memang jika seorang bawahan membuat satu kesalahan, maka menjadi tertutuplah segala kebaikan atau prestasi kerjanya. Seolah-olah berbuat kesalahan adalah haram hukumnya dan akan menggugurkan segala prestasi yg pernah dicapai. Seperti sebuah pepatah, “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Sangat amat disayangkan jika terjadi kondisi seperti ini karena memang penilaian hampir pasti tidak objektif lagi. Padahal tak ada manusia yg tak pernah luput dari kesalahan kecuali seorang nabi yg terjaga dari berbuat salah. Selagi masih bisa diperbaiki, memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri adalah salah satu solusi dan menjadi proses belajar untuk menjadi yg lebih baik lagi.

Dan tentu saja masih banyak sifat-sifat yg lain sperti aspiratif, memiliki rasa simpati dan empati yg cukup, terbuka dan mo menerima kritikan dan masukan, dll yg perlu dimiliki oleh seorang atasan dalam memimpin bawahan nya.

Sementara pikiranku masih melayang-layang memikirkan tentang faktor yg membuat suasana hati sahabatku tidak lagi nyaman untuk bekerja, tiba-tiba sahabatku pun menceritakan penyebabnya tanpa perlu aku tanya.

Tapi sebelum ia menceritakannya, aku telah sedikit membuat analysis alasan temanku memutuskan kluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Jika dilihat dari faktor kesesuaian pekerjaan dengan pendapatan yg ia terima, aku ragu jika ini alasan dia keluar karena pasti ditempatnya bekerja sekarang, dia pasti mendapatkan lebih dari cukup atau cukup. Dan jika tidak salah ingat, dia pun pernah berkata bahwa pendapatan yg ia dapat sesuai dengan pekerjaannya ini. Kemudian aku melihat dari sisi lingkungan kerja, faktor ini pun bukan alasan kuat untuk membuat ia kluar karena lingkungan tempatnya bekerja yg aku dengar penuh dengan rasa kekeluargaan dan kondusif untuk bkerja. Tinggal satu yg dalam otakku pasti ini hubungan antara atasan dan bawahan.

Kemudian temanku pun bercerita bahwa ia senantiasa di persalahkan oleh atasan atas pekerjaan-pekerjaan yg mungkin seharusnya bukan tanggung jawabnya. Karena merasa dipersalahkan ia pun melakukan pembelaan diri sehingga sempat terjadi adu argumen yg cukup alot antara dia dengan atasannya. Namun karena posisinya yg mungkin sebagai bawahan maka ia pun akhirnya tak mampu berbuat apa-apa dan hanya mampu menerima saja. Hal yg tidak disukai oleh nya adalah atasannya hanya mampu mempersalahkan dirinya saja tanpa mampu membantu memberikan solusi yg tepat. Dari hal tersebutlah dia mulai merasa tidak ada kecocokan antara dirinya dan atasannya sehingga hatinya sudah merasa tak nyaman lagi bekerja. Karena ia merasa kelak apapun pekerjaan yg ia lakukan mungkin tetap akan di persalahkan sehingga ia berpikir untuk apa ia bertahan dengan kondisi yg sudah tak cocok dan nyaman lagi untuk bekerja bagi dirinya.

Dari hal tersebut aku berpikir tentang motto yg ia pernah ucapakan. Serumit apapun pekerjaannya selama masih dalam batas-batas rasional manusia dan bisa dicapai akal maka nothing is impossible and impossible is nothing bisa berlaku dengan kondisi suasana hati terjaga alias merasa nyaman dan senang melakukan pekerjaan tersebut. Tapi jika suasana hati sudah tidak tenang, nyaman dan senang melakukan sebuah pekerjaan, maka jangankan pekerjaan yg sulit dan rumit, pekerjaan yg mudah pun bisa jadi berantakan jika dikerjakan. Sehingga jika kondisi ini yg terjadi maka motto impossible is nothing and nothing is impossible akan menjadi NOTHING..!!!

Tapi dalam hatiku berkata bahwa ini hanya baru sekelumit persoalan dalam dunia pekerjaan yg muncul ke permukaan dari sekian banyak persoalan. Dan kita harus pandai-pandai serta bijak menyikapinya agar tak terperangkap oleh emosi sesaat yg bisa merugikan diri kita sendiri. Sekarang tinggal kembali kepada bagaimana masing-masing individu menyikapinya. Termasuk diriku sendiri.


-Acul-

Alam bawah sadar yang mengajak dan menjadikan,

Bekerja sebagai ibadah, jabatan sebagai amanah
Pekerjaan yg di lakukan adalah tasbih
tempat bekerja adalah aktualisasi diri dan sajadah cinta
Bila suatu pekerjaan tidak diawali dengan membaca basmalah, maka gugurlah segala pahala dari pekerjaan tersebut.

Jangan makar atau berpolitik dikantor

Ada sebuah soal yang saya ajukan kepada team saya, pertanyaannya bagaimana caranya sebuah garis sepanjang 30 cm terlihat menjadi lebih kecil...