Alkisah di sebuah perusahaan media yang sedang mengalami guncangan keuangan melakukan review dan evaluasi internal. Dalam proses evaluasi tersebut sudah banyak karyawan yang akhirnya menjadi korban efisiensi dari semua direktorat atau divisi. Tidak terkecuali tulang punggung perusahaan tersebut yaitu direktorat sales dan marketing yang menjadi korban efisiensi dimana sebenarnya selain banyaknya karyawan yang sudah terkena dampak efisiensi, juga banyak tim sales yang akhirnya mengundurkan diri untuk mencari tempat kerja yang baru.
Entah bagaimana ceritanya ketika banyak tim sales yang mengundurkan diri dibanding tim marketing hingga akhirnya secara rasio jumlah karyawan sales menjadi lebih sedikit dibandingkan tim marketing. Dan kondisi ini pun akhirnya menjadi highlight dari para pimpinan tertinggi khususnya pimpinan tertinggi dibagian keuangan. Dan kondisi ini pun sampai ke telinga pemilik perusahaan yang akhirnya memberikan perintah untuk melakukan evaluasi di tim marketing atau dengan kata lain efisiensi(lagi).
Namun ada selentingan yang beredar yang menganalogikan tim sales dan marketing ini seperti sebuah restoran dimana tim marketing adalah koki atau chef restoran yang membuat makanan untuk di jual dan tim sales adalah yang menjual makanan tersebut. Sehingga terjadi bias evaluasi dimana marketing yang di analogikan koki restoran dianggap lebih banyak daripada sales yang menjual makanan yang dihasilkan. Atau dengan bahasa lainnya harusnya tim yang menjual makanan lebih banyak daripada koki yang membuat makanan. Analogi ini sebenarnya kurang tepat jika di gunakan untuk mereview tim sales marketing karena fungsi tim marketing bukan hanya sekedar Chef atau koki restoran seperti yang di analogikan tapi ada banyak fungsi marketing diluar menjadi seorang chef, dimana pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan hanya oleh seorang chef atau koki.
Ada baiknya jika ingin membuat evaluasi tim marketing harus benar-benar di pahami kondisi dilapangannya dan tidak semudah menganalogikan proses di marketing sesederhana sebuah restoran dengan jumlah koki yang di milikinya. Ada apa saja di marketing..? apakah benar-benar hanya berfungsi sebagai seorang koki saja..? atau apakah di dapur sebuah restoran hanya ada seorang koki saja..? apakah tidak ada asisten koki..? tidak ada yang membantu bersih-bersih..? tidak ada yang membantu belanja..? tidak ada yang membantu mencuci peralatan..? dan lain sebagainya.
Jika ingin membuat rasio sales vs marketing 1:1, coba lah ditelusuri dahulu di lapangannya, ketika sales datang ke klien dan klien memberikan brief ke sales kemudian datang ke marketing, kira-kira brief apa saja yang di sampaikan oleh klien untuk di follow up sales ke tim marketing..? jika di analogikan dengan koki, kira-kira koki yang seperti apa yang bisa menjawab brief ini. Karena tim marketing yang telah di bentuk dari jaman dahulu tentu untuk menjawab kebutuhan klien dan bukan serta merta dibentuk tanpa tujuan. Berbagai bentuk permintaan klien seperti regular, sponsorship, off air, digital, blocking, built in, kuis, data analis, bisnis/brand pitch, tvday presentasi, dll. Apakah yang di maksud rasio 1:1 adalah 1 orang sales vs 1 orang marketing yang harus bisa mengerjakan semua pekerjaan tersebut..? jika ada 2 orang sales dengan brief yang sama, apakah semua dikerjakan oleh 1 orang yg sama? atau jika ada lebih dari 2 orang sales datang ke marketing apakah semuanya di kerjakan oleh orang yang sama..? bagaimana jika brief yang berbeda dan dari banyak sales yang datang..?
Disinilah pentingnya memahami konteks dan kondisi lapangan bagi para pimpinan tertinggi di perusahaan media ini. Apakah dengan melakukan efisiensi karyawan di marketing akan membuat kondisi keuangan menjadi lebih baik..? apakah memberikan dampak yang significant atau justru sebaliknya tidak memberikan dampak significant sama sekali.
Jika efisiensi SDM pada akhirnya tidak memberikan dampak significant artinya pimpinan tertinggi bagian keuangan harus melihat post atau direktorat mana yang memiliki cost yang paling tinggi..? jangan karena post yang memiliki cost tinggi tersebut akan menyinggung pimpinan tertinggi direktorat lain akhirnya pimpinan keuangan menjadi sungkan dan enggan untuk mengangkat isu tersebut. Karena hanya dengan efisiensi di post yang memiliki cost tertinggi itulah sebenarnya kondisi keuangan perusahaan akan terselamatkan atau setidaknya membawa dampak significant terhadap kondisi keuangan perusahaan.
Ujungnya semuanya bisa saja bukan hanya terkait untuk kepentingan perusahaan tapi mungkin juga terkait dengan kepentingan pribadi para pimpinan tersebut. Meskipun semua bisa saja hanya dugaan yang belum bisa dibuktikan tapi para karyawan akan melihat adanya sebuah politik yang sedang berjalan ditengah badai yang melanda kondisi perusahaan tersebut.
Akan kemana perusahaan ini dibawa, semua tergantung dari kebijakan-kebijakan yang diambil para petinggi perusahaan tersebut. Jika keputusan tepat yang dihasilkan maka selamat lah perusahaan ini tapi jika keputusan yang di hasilkan kurang tepat yang membuat karyawan merasa di dzolimi dan bahkan mungkin juga berdampak ke pihak klien yang merasa di khianati atau mungkin di dzholimi maka bisa saja perusahaan ini pada akhirnya akan tenggelam dan karam dilautan kejayaan yang dulu di bangga-banggakan. Karena Tuhan pasti akan mendengar dan mengabulkan doa-doa dari orang-orang yg di dzholimi. Wallahu A'lam bissawab...
No comments:
Post a Comment